Widget HTML Atas

Hidup Berumah Tangga itu Mudah

membina rumah tangga

Bagi teman-teman yang kebetulan membaca tulisan ini, yang sudah menikah dan umur pernikahannya sudah lama, misalnya di atas 10 tahun, mohon maaf, sekali lagi mohon maaf, tulisan berikut ini tidak sedang menggurui teman-teman yang sudah merasakan asam garam kehidupan berumah tangga. Anggaplah tulisan ini adalah tulisan dari orang yang sedang belajar menulis dan sedang belajar membina rumah tangga lebih baik. Ditujukan untuk diri sendiri. Sebagai pengingat.

Retaknya Rumah Tangga karena Rapuhnya Pondasi

Hampir setiap hari, kita disuguhi berita tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dengan judul berita yang hiperbola. Seperti “Gara-gara tidak dibuatkan kopi, suami hajar istri”, “Suami menampar Istri, Istri lapor polisi”, dan masih banyak lagi kasus rumah tangga yang hampir tiap hari menghiasi sosial media.

Beragam kasus rumah tangga yang berujung pada meja hijau dan bahkan perceraian, menyisakan banyak pertanyaan? Mengapa seorang suami tega menelantarkan dan menganiaya istrinya? Mengapa terjadi kekerasan dalam rumah tangga? Mengapa hanya gara-gara urusan sepele, istri menjadi orang yang paling bersalah? Mengapa suami bisa tidak memberikan nafkah lahir dan bathin? Hingga akhirnya banyak dijumpai para istri menuntut cerai.

Beragam kasus rumah tangga di atas bisa jadi karena rapuhnya pondasi yang dibangun. Rapuhnya pondasi disebabkan beberapa hal. Bisa jadi karena ketidaktahuan pasangan tentang prinsip dan formula hidup berumah tangga. Bisa jadi ketidak tahuan pasangan tentang makna pernikahan.

Rapuhnya pondasi tidak akan siap menahan terpaan angin dan badai yang datang tiba-tiba. Tetapi dengan pondasi yang kuat, rumah tangga akan tetap kokoh berdiri meskipun ujian dan cobaan datang silih berganti.   

Sepertinya sangat rumit memahami orang berumah tangga. Karenanya sebagian orang menunda untuk menikah. Padahal kalau kita tahu ilmunya, tahu rumusnya, mau belajar pada orang yang sudah berpengalaman, selalu memohon petunjuk pada Allah SWT, insya Allah berumah tangga itu mudah. 

Membangun Pondasi Rumah Tangga yang Kuat

Lalu, bagaimanakah pondasi atau landasan orang menikah dan membangun rumah tangga? Tidak ada jawaban lain dan landasan lain kecuali landasan menikah dan berumahtangga itu untuk beribadah, untuk taat kepada perintah Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasululullah SAW.

Karena jika landasan pernikahan adalah hanya karena kecantikan dan ketampanan, maka pasangan akan berpaling jika pasangan sudah tidak cantik atau tampan lagi. Jika landasan menikah semata-mata karena keturunan, maka akan ada perceraian jika selama pernikahan tidak kunjung dikaruniai keturunan. Jika landasan pernikahan hanya karena harta, maka pasangan bakal bercerai jika pasangan tidak lagi berharta. Jika landasan pernikahan semata karena cinta, cinta manusia mudah pudar jika ada hal-hal yang lebih baik dari yang dicintai.

Bukan tidak boleh memilih pasangan hidup karena cantik atau tampannya, bukan tidak boleh menikahi pasangan dari keluarga terhormat dan memiliki harta melimpah, dan bukan tidak boleh menikah karena cinta. Boleh dan sah-sah saja. Tetapi semuanya akan lebih kuat jika dilandasi karena agama dan untuk ketaatan pada Allah SWT.

Jadi, tujuan penting dalam menikah dan membangun rumah tangga, yang tidak boleh ditinggalkan adalah menikah karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah. Jika di kemudian hari, ada pertengkaran, ada perselisihan, maka masing-masing pasangan harus kembali mengingat, apa tujuan dari menikah dan membina rumah tangga. Anggaplah, pertengkaran-pertengkaran kecil bagian dari bumbu-bumbu hidup berumah tangga.

Berumah Tangga Karena Allah Pasti Dimudahkan

Menikah dan membina rumah tangga tidak hanya untuk bahagia di dunia, tetapi juga di akhirat. Lelahnya suami untuk menafkahi keluarga, lelahnya istri melayani suami dan merawat anak-anak, jika semua diniatkan karena Allah SWT, maka semuanya akan terbayar lunas ketika di akhirat kelak. Ya, tidak hanya bahagia hingga menua, tapi bahagia bersama-sama hingga ke surga.

Ukuran suksesnya berumahtangga adalah bagaimana kehidupan berumahtangga berjalan sesuai dengan aturan Allah SWT. Kehidupan berumahtangganya tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya : pernikahan yang langgeng, pasangan yang baik, memiliki anak-anak yang baik, jauh dari gosip, pasangan yang rukun, dicintai tetangga dan orang-orang di sekitar, tenang dan tentram, harmonis, damai, penuh cinta dan kasih sayang. 

Berumahtangga yang ideal tersebut bukanlah hal yang mustahil. Asal masing-masing pasangan terus belajar memperbaiki, saling melengkapi kekurangan, dan yang paling penting masing-masing pasangan memiliki dan memahami tujuan menikah dan berumah tangga yang sama. Dengan memiliki tujuan yang sama, bahtera bernama rumah tangga akan mudah diarahkan. Badai dan gelombang akan mudah ditaklukkan. 

Jika tujuan menikah dan berumah tangga karena Allah SWT, maka Allah juga tidak akan rela membiarkan hambanya berada dalam kesempitan dan kesulitan. Segala kesulitan berumahtangga akan selesai dengan mudah dengan cara-Nya. Bukankah Allah SWT maha berkehendak? Kewajiban kita berikhtiar untuk membina keluarga dengan sebaik-baiknya dan selalu berdoa dan memohon bimbingan dari-Nya, hasilnya kita serahkan pada Allah. Yang terjadi pada kehidupan rumah tangga kita, insya Allah yang terbaik untuk kita. 

Perilaku Istri adalah Cerminan Suami

Boleh setuju boleh tidak. Bahwa istri adalah cerminan dari suami. Bagaimana istri memperlakukan suami seperti bagaimana suami memperlakukan istri. Suami bersikap lemah lembut, maka seorang istri juga akan lemah lembut. Suami yang sabar, maka istri akan menjadi penyabar. 

Kalau pasangan kita tidak demikian, bagaimana? berarti anda masih kurang sabar. Sabar dan dampingi lagi pasangan kita hingga sesuai dengan apa yang diinginkan. Karena menikah itu untuk tujuan yang mulia, maka mempraktikkannya juga harus dengan proses yang baik dan hati-hati. Mengikuti cara-cara dan panduan sesuai dengan cara-Nya. Tidak sembrono dan asal-asalan. Semunya perlu belajar dan proses bertahap.

Pasangan suami istri dapat berkolaborasi dan bersinergi dengan baik untuk menggapai predikat keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Bila ada suami yang tidak dihormati atau dihargai oleh istri, jangan-jangan memang suami tidak pernah menghargai seorang istri. Jika ada istri yang kasar pada suami, jangan-jangan suami sering berbuat kasar pada istri. Berhentilah saling menyalahkan, mari instrospeksi diri.

Jika suami menginginkan istrinya lemah lembut, maka bersikaplah lemah lembut kepada istri. Jika menginginkan istrinya baik, maka bersikaplah yang baik terhadap istri. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW : “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya” (HR. Tirmidzi)

Sekali lagi, segala kebaikan yang dilakukan untuk istri atau untuk suami semata-mata karena Allah SWT. Meskipun lelah insya Allah mudah dan bernilai ibadah.

12 comments for "Hidup Berumah Tangga itu Mudah"

  1. Setuju, kita semua berkeluarga maunya ideal dan harus berusaha unt menjadi keluarha ideal. Berkeluarga memang ga ada teori pastinya ya, ga mengenal usia dan siapa. Kadang ustd pun ga mampu mempertahankan keutuhan keluarganya. Ada juga pemulung yg hidupnya ga karuan dan gak faham agama, tp keluarganya bahagia. makanya separuh agama ada setelah berumahtangga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, bang. Semoga yg sudah berkeluarga dapat membina keluarga bahagia dunia dan akhirat

      Delete
  2. Masya allah, pengingat diri ini...Saya sudah 18 tahun menikah dan masih terus memperbaiki diri, Insya Allah
    Segala kebaikan yang dilakukan untuk istri atau untuk suami semata-mata karena Allah SWT. Meskipun lelah insya Allah mudah dan bernilai ibadah....betul sekali!

    ReplyDelete
  3. Meski belum berumah tangga, tercerahkan aku jadinya kak hehe. Entah kenapa topik tentang parenting & keluarga sangat aku sukai😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena semua akan mengalaminya. Hanya berbagi ilmu dan pengalaman, semoga bermanfaat

      Delete
  4. Meskipun sudah jalan 16 thn menikah pastinya dlm mengarungi bahtera rumah tangga sesekali ada ombak yg menguji kekokohan pasangan suami-istri. Tp setuju dg yg Mas Masruhin tulis di atas, kl keluarga dibangun lillahi ta'ala, kl ada masalah, diserahkan lg pd Allah SWT, insyaallah adem lagi, gak sempet jd bara api yg membakar, menghancurkan RT.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, Allah yg kasih ujian dan cobaan, kalo gak kuat, ya kembalikan lagi. Minta dimudahkan, minta dikuatkan.
      Terima kasih kunjungannya, Mohon koreksinya Bu dosen.

      Delete
  5. Sepakat, Mbak. Pondasi itu yang dikuatkan. Setelah itu, tinggal komunikasi. Namanya berkeluarga pasti ada masalah. Dan yang berumah tangga harus siap dengan adanya masalah.

    ReplyDelete
  6. Ini bisa jadi bahan pertimbangan bagi Yuni yang belum berumah tangga nih. Tapi benar juga sih. Jangankan urusan rumah tangga, masalah lain juga butuh pondasi yang kuat. Kayak rumah misalkan. Pondasinya lemah ya begitu deh.

    ReplyDelete
  7. Semoga saja pondasi rumah tangga kita tetap kokoh. Berita tentang KDRT dan sebagainya jangan sampai itu terjadi pada keluarga kita.

    Jalan terbaik jika kita menghadapi perselisihan dalam rumah tangga hendaknya dikomunikasikan dengan kepala dingin, dan ssalah satunya harus ada yang mengalah

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul kang, salah satu harus ada yg mengalah

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak yang positif. Salam blogger!

Berlangganan via Email