Widget HTML Atas

Mendidik Dengan Keteladanan

Mendidik dengan keteladanan
Mendidik Dengan Keteladanan

Suatu hari, tiba-tiba anak saya yang berumur tiga tahun berucap, “Äyah nakal, saya pukul lho!”. Saya langsung kaget dan gemes mendengar kata-kata anak saya. Bagi orang lain, kata-kata tersebut biasa. Tapi bagi saya aneh. Dalam hati, kok bisa, kata-kata tersebut meluncur dari anak saya. Kami bingung dan mengingat-ingat kesalahan yang mungkin kami lakukan.

Kejadian di atas bisa jadi juga dialami oleh para orang tua. Bisa jadi anak saya meniru kami yang secara tidak sengaja mengucapkannya, atau bisa jadi dari teman-temannya atau kakak-kakaknya waktu bermain. Memang begitulah tabiat anak. Anak sangat mudah mencontoh dari apa yang dilihat dan didengarnya.

Mendidik dengan keteladanan

Dalam metode pendidikan Islam, mendidik dengan keteladanan merupakan cara yang paling efektif dalam membentuk akhlak, mental, dan sosialnya. Karena pendidik (baik guru atau pun orang tua) adalah panutan atau idola dalam pandangan anak dan contoh yang baik di mata mereka.

Anak akan mengikuti tingkah laku pendidiknya, meniru akhlaknya, baik disadari atau tidak. Bahkan, semua bentuk perkataan dan perbuatan pendidik akan terpatri dalam diri anak, diketahui atau tidak. Jika pendidik adalah seorang yang jujur dan terpercaya, maka anak pun akan tumbuh dalam kejujuran dan sikap amanah. Namun, jika pendidik adalah seorang pembohong, maka anak juga akan tumbuh dalam kebiasaan berbohong dan tidak bisa dipercaya.

Tidak mungkin anak belajar menahan emosi, jika ia melihat orang tuanya selalu marah-marah dan emosional. seperti halnya tidak mungkin juga anak belajar kasih sayang, kalau ia melihat orang tuanya bersikap keras. Tidak mungkin anak dapat belajar berbicara yang baik, kalau anak sering mendengar orang tuanya berkata-kata kotor dan mencela.

Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW

Orang tua maupun guru tidak hanya cukup memberi teladan yang baik saja, namun mereka pun berkewajiban membuat anak terikat dengan sang pemilik teladan yang baik yaitu Rasulullah SAW. Dengan cara mengajarkan kepada anak tentang kisah-kisah kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu sauri tauladan yang baik”(Al Ahzab;21) dan “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al Qalam;4)

Tujuan dari mengajarkan hal di atas adalah agar dalam diri anak terpatri sifat-sifat mulia dan kesempurnaan, dan tumbuh keberanian dan sikap berkorban. Sehingga ketika ia sudah dewasa, ia tidak mengenal pemimpin, teladan, dan panutan yang baik melainkan Nabi Muhammad SAW.

Selain itu pendidik, maupun orang tua juga berkewajiban untuk mengikat hati anak-anaknya dengan keteladanan dari para sahabat Rasulullah SAW dan generasi terdahulu yang saleh. Agar anak-anak berakhlak dengan akhlaknya orang-orang pilihan. Mengenali mereka, mengikuti jejak-jejak kebaikannya, dan mencintai mereka.

Cara Menanamkan Keteladanan Akhlak

Selain orang tua menjadi teladan kebaikan bagi anak dan mengajarkan kisah-kisah kemuliaan Akhlak Rasulullah dan para sahabat Rasulullah serta generasi saleh terdahulu, orang tua juga dapat menerapkan beberapa cara untuk menanamkan keteladan yang baik, yaitu:

1. Memilihkan sekolah yang baik.

Pendidikan keteladanan itu mencakup keteladanan orang tua, keteladan guru, keteladanan teman-temannya, dan keteladanan kakak. Maka, bagi orang tua memilihkan sekolah yang baik, merupakan ikhtiar orang untuk mendapatkan keteladanan yang baik bagi anak. Jika anak dibesarkan dan dididik di sekolah yang baik, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang baik.

2. Memilihkan lingkungan yang baik

Memilihkan sekolah yang baik merupakan sekaligus memilihkan lingkungan yang baik, teman-teman yang baik, dan guru-guru yang baik. Dengan begitu, anak akan tumbuh dan mendapatkan teladan dalam akidah, ibadah, akhlak, fisik, mental, dan intelektual yang baik. Sebaliknya, jika anak berada di lingkungan yang tidak baik, anak akan sulit untuk tumbuh menjadi anak yang baik. Bahkan anak yang sebelumnya baik bisa menjadi tidak baik karena berada di lingkungan yang tidak baik.

3. Berkonsentrasi pada akhlak anak yang paling tua

Mendidik dengan keteladan yang difokuskan untuk anak yang lebih besar atau lebih tua. Karena anak yang lebih kecil akan mengikuti kebiasaan yang dilakukan oleh anak yang paling besar. Bahkan, ia akan memandangnya sebagai panutan dalam segala hal dan meniru sebagian besar akhlak dan kebiasaan sosialnya. Oleh karena itu, orang tua harus mengonsentrasikan perhatian terhadap anak yang paling besar, baru kemudian adik-adiknya. Hal ini bertujuan agar sang kakak menjadi teladan yang baik bagi adik-adiknya.

Kesimpulan

Mendidik dengan keteladanan merupakan metode mendidik yang paling efektif. Bahkan dengan keteladanan ini merupakan dasar untuk membentuk akhlak dan etika sosial anak. Tanpa ada keteladanan, pendidikan apapun dan nasihat apapun menjadi tidak berpengaruh bagi anak.

Mendidik dengan keteladan dimulai dari teladan dari orang tua atau guru, lingkungan, dan anak yang paling tua. Sedangkan contoh atau teladan yang menjadi rujukan dalam keteladan adalah sang pemilik teladan kebaikan yaitu Rasulullah SAW, para sahabat, dan generasi saleh terdahulu. Semoga kita bisa terus belajar menjadi teladan kebaikan bagi anak. Semoga bermanfaat.


Referensi : Pendidikan Anak dalam Islam, DR. Abdullah Nashih Ulwan.


4 comments for "Mendidik Dengan Keteladanan"

  1. Keteladanan merupakan sebuah hal yang paling efektif. Meskipun berat, harus bisa. Ini tugas orang tua

    ReplyDelete
  2. pentingnya mendidik anak dengan baik perlu didukung oleh lingkungan yang baik pula. dan sangat tepat juga perlu mengajarkan suri tauladan yang baik seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah.

    ReplyDelete
  3. Pemting banget ini karena keteladanan akan membuat sopan satun anak lebih tau dalam bersikap, manfaat banget artikelnya mas

    ReplyDelete
  4. Aku setuju bahwa anak-anak itu adalah peniru ulung. Akan lebih baik saat orang tua memang memilihkan lingkungan yang baik untuk mereka. agar memiliki keteladanan yang baik pula.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak yang positif. Mohon tidak meletakkan link hidup. Salam blogger!