Widget HTML Atas

10 Fakta Penting Tentang Utang Piutang


10 Fakta Penting Tentang Utang Piutang.- Hari ini, siapa sih yang nggak punya utang? Paling tidak setiap kita pernah punya utang. Dengan nilai utang yang berbeda-beda dan untuk keperluan yang berbeda-beda pula. Sedikit atau banyak nilainya, utang tetap 'kepikiran'. Apalagi di tengah kondisi pandemi sekarang, yang punya tanggungan cicilan sangat terasa efeknya. Berat dan sulit.

Memang, perkara utang adalah perkara yang seolah sulit dihindari. Hampir semua orang pernah mengalami berutang. Termasuk saya sendiri. Jika diizinkan berpesan : perkara utang menurut saya harus dihindari sebisa mungkin. Apalagi kalau utang tersebut menimbulkan perkara baru yaitu riba. Belum lagi muncul masalah-masalah lain.

Namun jika dalam kondisi mendesak, berutang itu boleh-boleh saja asalkan dibayar. Sepakat ya?

Meskipun perkara hutang itu dibolehkan, Islam mengatur adab dan aturan dalam berutang. Jika adab dan aturan dipenuhi dalam berutang, Insya Allah, seseorang akan aman di dunia dan akhirat.

Berikut saya ringkaskan secara singkat, 10 hal penting dalam perkara utang. Saya beri judul demikian karena berdasarkan pengalaman dan kebiasaan yang ada. Boleh jadi pengalaman dan pendapat sobat semua berbeda. (silakan tulis di kolom komentar)

10 Fakta Penting Tentang Utang Piutang


1. Berutang Itu Boleh

Berutang yang tidak boleh itu, setelah dapat utangan kemudian menghilang dan tidak bayar. Perbuatan seperti ini yang sering membuat orang kapok untuk memberikan utang. Enggan untuk menolong lagi di kemudian hari.

Utang dalam Islam hukumnya boleh. Sebagaimana firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya.” (QS. Al Baqarah : 282)

2. Utang yang Produktif

Meskipun diperbolehkan, Islam juga memberikan rambu-rambu dalam melakukannya. Rasulullah pernah berutang karena untuk kebutuhan makan.

“Nabi Muhammad SAW membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tidak tunai, kemudian beliau menggadaikan baju besinya.” (HR. Bukhari)

Seringkali seseorang berutang bukan karena terdesak karena kebutuhan untuk hidup, melainkan karena untuk gaya hidup. Memenuhi gaya hidup yang tidak ada puasnya. Menuruti hawa nafsu yang tidak habisnya.

Menurut ilmu bisnis, utang produktif itu adalah utang yang digunakan untuk selain kebutuhan konsumtif. Utang yang digunakan untuk sesuatu yang dapat memberikan keuntungan. Keuntungan yang dapat digunakan untuk mengembalikan atau melunasi pinjaman.

Contohnya seperti utang untuk membeli kendaraan, kemudian kendaraan tersebut disewakan, dari hasil disewakan digunakan untuk membayar utang kendaraan. Singkatnya, hasil dari kendaraan tersebut yang digunakan untuk melunasi utang. Sisanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Inilah utang produktif.

3. Hindari Utang Jika Tidak Punya Jaminan

Jika terpaksa harus berutang, milikilah jaminan. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW di atas, Rasulullah sampai menjaminkan baju besinya padahal hanya berutang untuk makan. Apalagi yang lebih besar dari itu.

Mengapa harus ada jaminan? Dengan adanya jaminan akan menumbuhkan kepercayaan bagi si pemberi utang. Selain itu, orang yang berutang dengan adanya jaminan lebih terhormat dan dipercaya. Apalagi jika jaminan tersebut nilainya lebih besar dari utang.

Sarannya adalah jika tidak ada jaminan, tidak usah berutang. Bekerja dan berusaha semampunya dan bersikaplah sederhana. Tidak semua modal kerja adalah uang. Tidak semua uang didapatkan dari utang.

4. Utang Menjadi Kebiasaan.

Ya, faktanya demikian. Berutang sudah menjadi bagian dari life style. Bukan lagi menjadi sesuatu yang terpaksa dilakukan karena kebutuhan hidup yang mendesak. Tetapi utang sudah menjadi sebuah kebiasaan. Seolah-olah kalau tidak berutang itu tidak semangat hidupnya.

Kebiasaan yang sudah menjadi watak atau tabiat. Inilah yang menurut saya banyak menjangkiti manusia sekarang. Mental berutang. Terasa ada yang kurang, jika hidup tidak punya utang. Ada yang tidak lengkap, kalau setiap bulan tidak ada angsuran yang harus dibayar.

Mental ini muncul karena seseorang sudah merasakan enak dan lancar dalam berutang. Merasa mampu untuk membayar utang. Misalnya: kredit motor lunas, ingin kredit mobil, lunas angsuran mobil ingin kredit rumah, begitu seterusnya.

5. Rajin Berutang Malas Bayar

Tabiat seperti ini banyak di kampung saya. Mungkin di kampung anda tidak ada. Tidak ada bedanya, he.. he….

Ya, seperti itulah, kebiasaan berutang menyebabkan banyak masalah sedikit maslahah. Dimana-mana punya utang. Utang dimana-mana tidak dibayar. Setiap orang datang menagih. Belum lagi, kalau lagi ditagih, kadang lebih galak yang ditagih daripada yang menagih. Bingung kan?

Seringkali seseorang sangat senang dan gembira ketika dapat pinjaman, berasa orang kaya ketika baru dapat pencairan utang. Setelah pinjaman habis terpakai, bingung bagaimana cara melunasinya.

So, ada rencana berutang, harus ada rencana membayarnya. Berani berutang harus berani melunasinya.

6. Seringkali Menimbulkan Perselisihan.

Fakta ini tidak terbantahkan. Persoalan utang piutang tidak sedikit yang berujung pada perselisihan. Padahal akad sudah sepakat dan tercatat. Masih muncul masalah-masalah lain. Apalagi jika tidak tercatat sama sekali.

Sekalipun utang piutang dengan saudara atau teman, akad utang harus tercatat, tertulis dengan jelas dan tersimpan dengan baik. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan perselisihan.

7. Mudah Berbohong

Fakta ini juga tidak bohong. Orang yang yang terlilit utang akan sangat mudah berdusta. Apalagi ketika datang tagihan atau jatuh tempo.

Selain mudah berdusta, orang yang terlilit utang juga mudah berjanji tetapi mudah pula diingkari. Janjinya akan dilunasi hari ini, ternyata tidak. Katanya dibayar besok, besoknya bilang anaknya lagi sakit. Katanya tunggu akhir bulan, tidak dibayar lagi alasannya buat bayar sekolah anak-anak. Dan seterusnya.

Seribu alasan akan digunakan. Kebohongan yang pertama akan melahirkan kebohongan-kebohongan berikutnya. Akhirnya, orang yang kebiasaan berutang dan terlilit utang bukan lagi fokus bagaimana melunasi utang, tetapi fokus bagaimana menutupi kebohongan-kebohongan yang dilakukan. Naudzubillah.

8. Utang Dekat dengan Riba

Akad utang adalah akad tolong menolong (ta’awun) dan akad sosial, membantu orang yang dalam kesulitan, maka tidak boleh disamakan dengan akad jual beli. Dalam arti lain, tidak diperbolehkan mengambil manfaat atau keuntungan dari akad tersebut. karena mengambil keuntungan dari pemberian utang termasuk kategori Riba.

Hal ini yang kadang masih sering terjadi. Demi diberikan pinjaman utang, seseorang menjanjikan keuntungan dan iming-iming lainnya. Terjebaklah seseorang pada akad tolong menolong yang menimbulkan riba. Berhati-hatilah.

Diperbolehkan menerima keuntungan jika sebelumnya tidak ada akad atau pembahasan terkait keuntungan. Sebagai hadiah atau ucapan terima kasih atas bantuan pinjaman.

Rasulullah bersabda : “Aku menemui Nabi saat beliau berada di masjid, lalu beliau membayar utangnya kepadaku dan memberi lebih kepadaku” (HR. Bukhari)

9. Lebih Mulia Yang Memberikan Utang

Pada dasarnya utang piutang adalah kegiatan tolong menolong dan kepedulian seseorang kepada orang yang membutuhkan atau dalam kesulitan. Orang yang memberikan utang berarti telah menolong dan meringankan kesulitan orang lain. Disinilah kemuliaan orang yang memberikan utangan.

Sebagaimana Rasulullah berpesan : “Pada waktu peristiwa Isra’, aku melihat pintu surga tertulis ‘Sedekah dibalas dengan sepuluh kali lipat dan memberi utangan dibalas dengan delapan belas kali lipat’. Maka aku (Nabi Muhammad SAW) bertanya “Wahai Jibril mengapa memberi utangan lebih afdhal ketimbang sedekah?” Jibril menjawab, “Karena seorang peminta-minta dia meminta sedekah padahal dia sudah mempunyai sesuatu. Sedangkan orang yang berutang tidak, ia berutang kecuali karena ia memang sangat membutuhkan”. (HR. Ibnu Majah)

10. Tidak Membayar Hutang, Hidup Makin Sulit

Sebab-akibat itu berlaku dalam bermuamalah. Siapa menanam kebaikan, suatu saat akan mendatangkan kebaikan. Siapa menanam keburukan, suatu saat juga akan mendatangkan keburukan. Itulah hukum sebab akibat.

Begitu juga dalam utang piutang. Ketika berutang tidak membayar atau mengulur-ulur pelunasannya. Maka akibatnya adalah menjadi orang yang tidak percaya. Hidupnya semakin sempit karena sudah dicap buruk oleh semua orang. Masyarakat menghindar dan tidak mau berurusan dengannya. Hidupnya menjadi sulit dan terhimpit.

Belum lagi ancaman akhirat, orang yang tidak membayar utang akan dicap sebagai pencuri. Sabda Nabi SAW , "Orang mana saja yang berutang dan berniat tidak membayarnya, maka ia akan datang menghadap Allah sebagai seorang pencuri.” (HR. Ibnu Majah)

Demikian 10 fakta penting dalam utang piutang. Semoga sobat semua, yang ingin terbebas dari utang, segera dapat melunasi utang-utangnya. Dan semoga kita menjadi bagian orang yang memberi utang, orang yang diberi kemurahan rizki dari sang Maha Pemurah, tetapi tetap memiliki sikap hidup sederhana. Wallahu a’lam (MB/2020)

baca juga : Alasan Mengapa Harus Hidup Sederhana
baca juga : Cara menghindari pemborosan

17 comments for "10 Fakta Penting Tentang Utang Piutang"

  1. Sesungguhnya orang yang paling kaya adalah orang yang tidak memiliki hutang :)

    ReplyDelete
  2. Banyak yang kalau setelah berhutang lupa bayar. Huhuhu. mereka ngegemesin.
    Saya dulu sering menghutangi dan kadang hutang. Sekarang tidak keduanya. Kalau ada ya diberikan, kalau tak ada ya maaf. Karena hidup makin sulit dan kami tidak mau punya hutang sepeser pun. Bahkan kredit pun tidak.

    ReplyDelete
  3. Sumpah, ngeri dengan hutang-piutang ini. Saya yang mau KPR rumah saja maju mundur. Ya Allah semoga dicukupkan tunai saja untuk membeli rumah.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah sejauh ini dijauhkan dari orang-orang galak yg ndamau bayar hutang. Tapi ada juga teman" yg hancur hubungan pertemanannya hanya karena soal utang. Semoga kita dijauhkan dgn org" seprrti itu

    ReplyDelete
  5. Banyak banget tabiat buruk yg timbul karena utang. Saya dan sejawat di MTR (masyarakat tanpa riba) pernah nge-list ada sekitar 20-an, salah satunya bikin ketagihan hingga bunuh diri juga.

    ReplyDelete
  6. Tiap salat saya selalu berdoa agar dijauhkan dari hutang. Alhamdulillah selama ini selalu menghindari hutang. Mudah-mudahan selalu istikamah sampai khusnul khatimah. Aamiin

    ReplyDelete
  7. Sebisa mungkin gak ngutang kalau bukan hal urgent. Ngeri sebenarnya soalnya utang itu perihal yang tidak akan diampuni meski mati syahid

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah dari kecil dididik untuk menghindari hutang mas.
    Dan saya ini seperti punya radar ketika orang lain berhutang. Saya terasa loh mas kalo orang yang berhutang itu jujur atau akan bohong. Kalo dari awal saya udah yakin itu orang akan bohong, saya dalam hati akan mengikhlaskan saja pemberian itu . Tapi tidak memberi full seperti dia minta. Misalnya dia mau pinjam 300 ribu, saya akan bilang saya hanya punya 100. Dalam hati saya sudah mengikhlaskan biar saya tidak kecewa dan dia pun tak terjebak dosa karena berbohong setiap saya tagih .

    ReplyDelete
  9. Hutang bagaikan pisau bermata dua. Bisa menumbuhkan perselisihan antara penagih hutang dan penerima hutang. Jadi kalau bisa cash lebih baik hindari hutang.

    ReplyDelete
  10. Kalau bisa sih hindari hiutang, ya? kalau nggak bisa berarti harus siap dengan konsekuensinya. hutang itu mudah, yang berat bayarnya, ya kan?

    ReplyDelete
  11. Bener nih Mas Masruhin, utang ga boleh jadi kebiasaan. Sebaiknya belajar hidup qona'ah, mensyukuri apa yg ada. Kl ga sanggup beli sabar aja dl berarti emang blm pantes beli, ketimbang ngutang banyak mudharatnya

    ReplyDelete
  12. Bener bangetttttt, utang itu boleh asal tujuannya untuk kegiatan produktif, bukan konsumtif. Jangan sampai juga berutang itu jadi kebiasaan, nisabnya di akhirat berattttt. Hehehehe

    ReplyDelete
  13. Semoga aku terbebas dari hutang. Hihihi. Ada hutang dengan keluarga inti sih, waktu buat rumah dulu. Semoga lekas lunas.

    ReplyDelete
  14. Sebisa mungkin untuk menghindari Utang

    Pengalaman Pribadi Saat masih ngekost punya teman yang ngutang lupa bayar, saat ditagih malah ngegas wkwk

    ReplyDelete
  15. bener nih mas, utang itu boleh tapi sebisa mungkin dihindari. duh apalagi sama temen kdang yang ngutang lebih galak kalau kita nagih. so true

    ReplyDelete
  16. Menarik nich tentang hutang piutang... kebanyakan... pada maunya minjem balikinnya susah..apalagi sama temen..mending milih putus hubungan pertemenan karena ada sangkutan hutang

    ReplyDelete
  17. kalo aku pribadi, mending langsung cash aja karena takut gak komitmen bisa bayar utang. kita gatau kedepannya akan ada sikon seperti apa

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak yang positif. Salam blogger!

Berlangganan via Email