Review Perjalanan Wisata Dieng – Malioboro: 2 Hari 2 Malam Penuh Cerita
Perjalanan wisata selalu punya dua sisi: destinasi yang indah dan cerita perjalanan yang tak terlupakan. Itulah yang saya rasakan saat mengikuti trip bersama teman-teman satu kantor dari Tuban menuju kawasan Dieng Plateau dan ditutup dengan menikmati malam di Malioboro, Jogjakarta.
Berangkat tanggal 1 Mei malam, tepat pukul 20.30 WIB dari Kota Tuban, perjalanan ini langsung terasa spesial. Selain karena destinasi yang sudah lama masuk wishlist, kebersamaan dalam satu rombongan besar membuat suasana makin hidup.
Ohya gays, jadi perjalanan ini sebenarnya bukan agenda kantor tetapi atas ide bersama untuk mengisi long weekend bersama-sama, jadi biaya perjalanan ditanggung bersama alias bayar dewe-dewe. Bagaimana keseruan perjalanannya? Baca sampai habis ya…
Perjalanan Malam Tuban – Wonosobo
Perjalanan darat menuju Wonosobo memakan waktu sekitar 7 jam. Kami menggunakan satu bus medium yang nyaman, cukup untuk menampung 26 orang. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam bus cukup ramai—ada yang ngobrol, bercanda, bahkan beberapa sudah mulai tidur untuk mengisi energi.Sekitar pukul 03.30 dini hari, rombongan tiba di basecamp sekaligus rumah makan Harmony di Wonosobo. Udara dingin langsung terasa begitu turun dari bus—ciri khas dataran tinggi Dieng yang memang terkenal menusuk sampai ke tulang.
Di sini, kami beristirahat sejenak, membersihkan diri, dan menikmati hidangan sederhana “welcome drink” sebelum melanjutkan perjalanan menuju spot utama: sunrise. Di tempat ini pula kami berganti kendaraan kecil yang sering disebut kendaraan shuttle dan dipandu 1 guide yang akan membersamai kami selama perjalanan di Dieng.
Sisa-sisa Sunrise di Batu Angkruk
Sekitar pukul 04.00 WIB, setelah shalat Shubuh, rombongan dibagi menjadi dua shuttle (karena akses ke atas terbatas) untuk menuju Batu Angkruk. Perjalanan menanjak dengan kendaraan kecil menambah sensasi petualangan.Karena suasana wisata sangat padat dan macet, sesampainya di lokasi, kami hanya bisa menikmati sisa-sisa sunrise, yang perlahan lautan awan mulai menghilang. Meskipun kehilangan momentum sunrise, matahari yang baru terbit dan suhu dingin yang menusuk tak mengurangi antusiasme kami. Semua berdiri menghadap horizon, menikmati pagi yang mulai menghangat.
Cuaca yang cerah pagi itu, menyajikan pemandangan yang benar-benar luar biasa. Gunung Sindoro tampak gagah diselimuti kabut tipis, dengan gradasi warna langit yang dramatis.
Momen ini jadi highlight utama perjalanan. Banyak yang mengabadikan dengan kamera, tapi jujur saja, suasana aslinya jauh lebih indah daripada sekadar foto.
Di sini, kami melihat kawah dengan lumpur panas yang terus mendidih dan mengeluarkan asap belerang. Aroma khas sulfur cukup menyengat, tapi masih bisa ditoleransi.
Keunikan Kawah Sikidang adalah kawahnya yang bisa “berpindah-pindah,” sehingga dinamakan seperti kijang (Sikidang). Area ini juga sudah dilengkapi jalur kayu, sehingga aman untuk wisatawan.
Spot ini cocok untuk edukasi sekaligus foto-foto unik dengan latar belakang kawah aktif.
Cuaca yang cerah pagi itu, menyajikan pemandangan yang benar-benar luar biasa. Gunung Sindoro tampak gagah diselimuti kabut tipis, dengan gradasi warna langit yang dramatis.
Momen ini jadi highlight utama perjalanan. Banyak yang mengabadikan dengan kamera, tapi jujur saja, suasana aslinya jauh lebih indah daripada sekadar foto.
Eksplor Kawah Sikidang yang Unik
Setelah puas menikmati sunrise, perjalanan dilanjutkan ke Kawah Sikidang. Lokasi ini terkenal dengan aktivitas vulkaniknya yang masih aktif.Di sini, kami melihat kawah dengan lumpur panas yang terus mendidih dan mengeluarkan asap belerang. Aroma khas sulfur cukup menyengat, tapi masih bisa ditoleransi.
Keunikan Kawah Sikidang adalah kawahnya yang bisa “berpindah-pindah,” sehingga dinamakan seperti kijang (Sikidang). Area ini juga sudah dilengkapi jalur kayu, sehingga aman untuk wisatawan.
Spot ini cocok untuk edukasi sekaligus foto-foto unik dengan latar belakang kawah aktif.
Menikmati View Ikonik Batu Ratapan Angin
Destinasi berikutnya adalah Batu Ratapan Angin. Dari atas bukit ini, kita bisa melihat pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari ketinggian. Telaga warna adalah telaga yang airnya berwarna hijau, sedangkan telaga pengilon ada telaga yang airnya tampak bening yang bisa dibuat bercermin. Orang jawa menyebut “pengilon” atau cermin.Perlu sedikit usaha untuk naik ke atas, tapi begitu sampai, rasa lelah langsung terbayar. Pemandangan yang disajikan benar-benar ikonik—perpaduan warna air dan lanskap pegunungan yang menenangkan.
Di sini, suasana lebih santai. Banyak dari rombongan duduk di gazebo atau rumah panggung menikmati angin sepoi-sepoi sambil berbincang ringan. Tempat ini cocok untuk “healing” sejenak setelah perjalanan panjang.
Di sini, suasana lebih santai. Banyak dari rombongan duduk di gazebo atau rumah panggung menikmati angin sepoi-sepoi sambil berbincang ringan. Tempat ini cocok untuk “healing” sejenak setelah perjalanan panjang.
Relaksasi di Kebun Teh Panama
Kalau di Malang ada Kebun Teh Wonosari, di Wonosobo ada Kebun Teh Panama. So, perjalanan kemudian berlanjut ke Kebun Teh Panama. Berbeda dari destinasi sebelumnya yang lebih dramatis, tempat ini menawarkan suasana yang lebih tenang dan hijau.Hamparan kebun teh yang luas memberikan efek menyegarkan bagi mata. Udara sejuk, pemandangan rapi, dan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kota membuat tempat ini cocok untuk bersantai.
Beberapa dari kami memanfaatkan momen ini untuk foto estetik, sementara yang lain sekadar berjalan santai menikmati udara segar dan menikmati wahana Flying fox dan kursi gantung di atas hamparan kebun teh.
Menuju Jogjakarta Menutup Hari di Malioboro
Setelah puas menjelajahi Dieng, perjalanan dilanjutkan menuju Jogjakarta. Perjalanan memakan waktu beberapa jam, namun suasana tetap menyenangkan karena kebersamaan yang sudah terbangun.Malam hari, rombongan tiba di kawasan Malioboro. Tempat ini memang tidak pernah kehilangan daya tariknya.
Lampu-lampu jalan, musik angklung, pedagang kaki lima, hingga wisatawan dari berbagai daerah menciptakan suasana khas Jogja yang hangat dan hidup.
Di sini, kami menikmati:
Perjalanan ini bukan sekadar wisata, tapi juga pengalaman kebersamaan yang mempererat hubungan antar rekan kerja. Dari dinginnya Dieng hingga hangatnya Malioboro, semuanya menyatu dalam satu cerita perjalanan yang sulit dilupakan.
Jika Anda mencari paket wisata yang lengkap—alam, petualangan, dan city vibe—kombinasi Dieng dan Jogjakarta seperti ini layak untuk dicoba. Anda bisa menghubungi Mbak Ike pemilik Open Trip Aturen Dewe he he..
Lampu-lampu jalan, musik angklung, pedagang kaki lima, hingga wisatawan dari berbagai daerah menciptakan suasana khas Jogja yang hangat dan hidup.
Di sini, kami menikmati:
- Wisata kuliner khas Jogja (gudeg, sate, angkringan)
- Berburu oleh-oleh
- Jalan santai atau naik becak menikmati suasana malam
Perjalanan Pulang
Rombongan kembali ke Tuban dan tiba pada tanggal 3 Mei pukul 05.00 pagi. Meski lelah, perjalanan ini meninggalkan kesan dan cerita seru bagi semua peserta.Perjalanan ini bukan sekadar wisata, tapi juga pengalaman kebersamaan yang mempererat hubungan antar rekan kerja. Dari dinginnya Dieng hingga hangatnya Malioboro, semuanya menyatu dalam satu cerita perjalanan yang sulit dilupakan.
Jika Anda mencari paket wisata yang lengkap—alam, petualangan, dan city vibe—kombinasi Dieng dan Jogjakarta seperti ini layak untuk dicoba. Anda bisa menghubungi Mbak Ike pemilik Open Trip Aturen Dewe he he..



No comments for "Review Perjalanan Wisata Dieng – Malioboro: 2 Hari 2 Malam Penuh Cerita"
Post a Comment
Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak yang positif. Mohon tidak meletakkan link hidup. Salam blogger!