Widget HTML Atas

Pendidikan Karakter Melalui Budaya Sekolah

pendidikan karakter
Pendidikan Karakter Melalui Budaya Sekolah. Komarudin Hidayat (Rektor UIN Jakarta 2006-2010) pernah menuliskan bahwa penerapan budaya sekolah sama pentingnya dibanding hanya memikirkan kurikulum, ketersediaan guru, dan lain sebagainya. Alasannya, karena banyak anak yang memiliki bakat hebat, tapi karena kondisi sekolahnya tidak mendukung, anak dimaksud tidak tumbuh optimal. Bakatnya terpendam, bahkan mati. Sebaliknya, anak yang kepintaran dan bakatnya sedang-sedang saja, tapi karena lingkungan sekolahnya bagus, anak tersebut tumbuh sebagai anak yang mandiri dan sukses. Sehingga budaya sekolah merupakan hal penting dalam proses pendidikan karakter.

Antara budaya sekolah dengan pendidikan karakter adalah dua hal yang saling berkaitan. Ada dua kata kunci untuk topik di atas, yaitu pendidikan karakter dan budaya sekolah. Secara singkat pendidikan karakter bukanlah jenis mata pelajaran tapi merupakan proses internalisasi atau penanaman nilai-nilai positif kepada peserta didik agar mereka memiliki karakter yang baik (good character) sesuai dengan nilai-nilai yang dirujuk, baik dari agama, budaya, maupun falsafah bangsa.

Untuk proses penanaman nilai-nilai positif tersebut, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, antara lain dengan budaya sekolah dan pembiasaan (habituasi). Pembiasaan-pembiasaan yang dibangun akan menjadi sebuah budaya. Apakah budaya yang dibangun itu baik atau sebaliknya. Sebagaimana sebuah ungkapan “Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Keunggulan bukanlah pekerjaan sekali jadi, melainkan sebuah kebiasaan”. Kebiasaan tercipta dari tindakan atau perbuatan yang berulang-ulang secara rutin. Tindakan atau perbuatan yang berulang-ulang tersebut bukan saja menjadi kebiasaan (habit) melainkan sudah menjadi karakter. Seseorang tersebut berkarakter baik atau berkarakter buruk.

Jika sebuah bangsa memiliki mental koruptor, maka bukan saja karena mereka memiliki kesempatan, tapi karena mental mereka sudah terbangun dalam diri pelakunya sejak lama. Mereka memiliki kebiasaan-kebiasaan yang negatif. Seperti mengambil barang orang lain tanpa ijin, berbohong, tidak jujur, tidak punya empati, serakah, dan lain sebagainya. Selain itu, bisa saja mereka tumbuh dan berkembang di lingkungan yang memiliki budaya korup.

Berikutnya apa yang dimaksud dengan budaya sekolah?

Budaya sekolah atau school culture adalah hasil rekayasa elemen dalam sekolah kemudian disepakati untuk menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh sekolah. Budaya ini dapat dilihat secara langsung melalui kebiasaan-kebiasaan. Sehingga sekolah yang memiliki budaya yang baik akan menjadi ciri khas sebuah sekolah dan bentuk keunggulan jika dibandingkan dengan sekolah lain.

Dalam konteks pendidikan, budaya sekolah merupakan sebuah pola perilaku dan cara bertindak yang telah terbentuk secara otomatis menjadi bagian yang hidup dalam sebuah komunitas pendidikan. Dasar pola perilaku dan cara bertindaknya adalah norma sosial, peraturan sekolah, dan kebijakan pendidikan di tingkat lokal. Oleh karena itu budaya sekolah dapat dikatakan seperti kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang lebih efektif memengaruhi pola perilaku dan cara berpikir seluruh anggota komunitas sekolah.

Budaya sekolah berjiwa pendidikan karakter terbentuk ketika dalam merancang sebuah program. Setiap individu dapat bekerja sama satu sama lain melaksanakan visi dan misi sekolah melalui berbagai macam kegiatan. Dalam mengembangkan pendidikan karakter melalui budaya sekolah, berbagai macam momen dan kegiatan dalam dunia pendidikan dapat menjadi titik temu. Momen pendidikan ini dapat bersifat struktural, polisional, dan eventual.

Beberapa Budaya Sekolah Untuk Pengembangan Pendidikan Karakter

Momen pendidikan yang struktural adalah peristiwa yang berkaitan erat dengan proses regulasi dan administrasi sekolah. Momen struktural ini di antaranya adalah proses pembentukan kesepakatan kerja, peraturan yayasan, peraturan sekolah, job description setiap jabatan dan kedudukan.

Momen pendidikan yang bersifat polisional adalah kebijakan pendidikan on the spot yang dilaksanakan secara rutin dan sifatnya tradisional. Kebijakan yang bersifat rutin adalah berbagai keputusan dan tindakan yang diambil dalam kerangka pengembangan mutu sekolah. Misalnya, kebijakan tentang penerimaan siswa baru, ujian sekolah, pengaturan jadwal pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, perwalian dan pengembagan professional guru. Sedangkan, yang bersifat tradisional adalah kebijakan rutin dalam rangka pengembangan pendidikan yang senantiasa berulang setiap tahun, seperti rapat-rapat kerja, pertemuan orang tua murid, penerimaan rapor, dan lain-lain.

Sedangkan momen pendidikan yang bersifat eventual adalah peristiwa-peristiwa pendidikan yang terjadi secara khas dan muncul karena terjadinya peristiwa tertentu yang merupakan tanggapan nyata sekolah atas peristiwa di luar lembaga pendidikan, dan memengaruhi kinerja lembaga pendidikan. Momen pendidikan eventual ini tidak dapat diprediksi, namun membutuhkan keputusan dan tanggapan langsung dari pihak sekolah untuk menyikapinya.

Adapun momen-momen dalam dunia pendidikan yang dapat dijadikan sebagai pengembangan kultur sekolah antara lain: Momen pengembangan diri seperti kelompok diskusi, jurnalistik, karya ilmiah, seni teater, menggambar, dan lain-lain. Momen perayaan dan kekeluargaan, Milad sekolah, atau Haflah akhirusanah. Apresiasi dan pengakuan akan prestasi orang lain. Masa orientasi sekolah (MOS). Pemilihan para pengurus OSIS, Dewan Kelas, Presidium. Kebijakan pendidikan. Kolegialitas antar guru. Pengembangan professional guru. Merawat tradisi sekolah. Asosiasi guru-orang tua/POMG. Dan masih banyak lagi momen yang lainnya.

Kesimpulan  

Dari sedikit uraian singkat di atas, maka membangun budaya sekolah menjadi hal yang penting. Sama pentingnya dengan tujuan membangun karakter itu sendiri. Karena membangun karakter bukanlah hal yang mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan, membutuhkan proses yang panjang dan strategi yang tepat. Kadangkala juga membutuhkan ‘pemaksaan’ dengan seperangkat aturan atau prosedur. Sehingga sekolah merupakan salah satu tempat yang tepat untuk proses internalisasi nilai-nilai positif tersebut. Dan akan lebih tepat lagi jika kultur yang dibangun dapat selaras antara di sekolah dan di rumah. Sehingga tidak ditemukan lagi anak yang ‘salah asuhan'. 

Referensi : Koesoema, Doni A. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak Di Zaman Global. Jakarta: Grasindo, 2010.




4 comments for "Pendidikan Karakter Melalui Budaya Sekolah"

  1. Iya sih bener ya. Karakter itu penting banget. Terutama budaya di sekolah juga jadi salah satu faktor pembentukan karakter

    ReplyDelete
  2. Budaya sekolah dan pendidikan karakter saling mendukung untuk anak didik, Indonesia memiliki khasanah budaya dan kearifan lokal

    ReplyDelete
  3. Menanggapi terkait anak pintar san berbakat tapi sekolah di tempat yang kurang mendukung. Ini membuatku mengingat film Denias. Temannya ini pintar sekali dan membuat sekolah Denias bisa menang kompetisi antar sekolah di Papua. Tapi, mereka (Denias dan temannya ini) sekolah di tempat yang kurang mendukung. Dari sini aku benar-benar menyetujui kalau bakat anak2 Indonesia masih banyak yang kurang terlihat karena sekolahnya kurang mendukung.

    ReplyDelete
  4. Jarang2 aku baca soal pendidikan karakter ini. Bbrp sekolah ada yg menekankan untuk pendidikan karakter tp aku blm ngeh arahnyaa sama realisasinya. Thankyou mas artikelnya

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak yang positif. Mohon tidak meletakkan link hidup. Salam blogger!