Ramadan ; Melatih Kepekaan dan Kepedulian Terhadap Kaum Dhuafa


Beberapa amalan di bulan Ramadan adalah memperbanyak sedekah. Tidak hanya itu, tetapi juga ada amalan wajib yaitu berupa zakat fitrah. Jangan heran bila pada setiap bulan Ramadan banyak di bentuk kepanitian ZISWAF (zakat, infaq, shodaqoh, dan wakaf) di mana-mana. Artinya salah satu hikmah Ramadan adalah mengajarkan kita untuk memiliki kepekaan dan kepedulian sosial. Termasuk peduli kepada dhuafa.

Kaum dhuafa atau mustad’afin, dalam KBBI disebut duafa yang artinya orang-orang yang lemah (ekonominya dan sebagainya). Sedangkan menurut Dr. Faizah Ali Sibromalisi (Dosen IIQ Jakarta), kaum dhuafa adalah manusia-manusia yang hidup dalam kemiskinan, kesengsaraan, kelemahan, ketidakberdayaan, ketertindasan, dan penderitaan yang tiada putus. Duafa bisa dikatakan sebagai orang yang lemah dalam segala aspek kehidupan.

Dalam Al Quran, baik tersurat atau pun tersirat, sangat banyak ayat yang membahas tentang kaum dhuafa. Ini menjadi bukti bahwa Islam memperhatikan kaum dhuafa. Sebagaimana Islam juga memperhatikan kaum yang lainnya, termasuk kaum Aghniya. Ada yang lemah ada yang kuat. Ada yang miskin ada juga yang kaya. Dan Islam sudah mengatur semua hal dalam setiap sendi kehidupan.
Beberapa  Firman Allah terkait larangan menjadi orang yang lemah dan peduli terhadap orang lemah. Misalnya dalam surat Annisa’: 9, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”

Dari ayat di atas, selain Allah melarang untuk menjadi kaum yang lemah, Allah juga sudah menawarkan solusinya yaitu dengan bertakwa kepada Allah dan berbuat jujur. Selain itu, Islam juga memberikan solusi untuk mengentaskan kaum dhuafa dan fakir miskin yaitu dengan adanya perintah berzakat, infaq, dan sedekah bagi orang yang mampu/kaya (aghniya)

Sebagaiman ayat berikut dalam surat Attaubah : 60, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Mengakhiri tulisan ini, semoga di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, kita dapat mendidik dan melatih diri untuk bisa berempati dengan kaum dhuafa dengan banyak berzakat, berinfaq, dan bersedekah serta dapat memberikan makan bagi orang yang kelaparan (takjil). Dan semoga kita menjadi orang yang bertakwa, yang akan dirindukan oleh surga. Aamiin.

BACA JUGA : Tiga Nilai Penting Kegiatan Mudik Ramadan

0 Comments