Tiga Nilai Penting dalam Kegiatan Mudik




Di Indonesia, kegiatan mudik sudah menjadi tradisi yang begitu lekat. Bahkan sudah menjadi budaya bagi bangsa Indonesia. Menjadi momen tahunan atau bahkan sepanjang tahun.  Utamanya pada hari raya atau hari besar lainnya.

Kata mudik sendiri dalam KBBI berarti pulang ke kampung halaman. Kata ini ramai dibicarakan ketika menjelang hari-hari raya. Termasuk hari raya Idul Fitri. Pulang kampung dalam rangka hari raya Idul Fitri.

Idul Fitri adalah hari istimewa. Bagi perantau, tidak afdhal kalau tidak mudik. Sehingga jauh-jauh hari mereka sudah menyiapkan segala persiapan demi bertemu dengan keluarga dan sanak saudara. Bekal dan oleh-oleh pun disiapkan. Demi bertemu dengan keluarga. Saling melepas kerinduan yang lama terpendam. Bukan sekadar bertemu, tetapi bertemu untuk saling bermaaf-maafan dengan keluarga dan sanak saudara serta tetangga. Ada kebahagiaan yang tidak terkata di momen mudik lebaran

Ada 3 nilai penting dalam kegitan mudik. Yaitu :

1.      Sarana Silaturahmi
Mudik bisa menjadi salah satu sarana penyambung kasih sayang antar keluarga yang sudah lama ditinggalkan. Bersilaturahmi berarti menguatkan ikatan persaudaraan dan kekeluargaan. 

Dengan niat silaturrahmi maka kita telah menjalankan  akhlaq Islam yang mulia. Rasululullah bersabda “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya menyambung tali kerabat. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya berkata baik atau diam” (HR Bukhari dan Muslim). Hadits ini merupakan dorongan untuk selalu menjalin ukhuwah Islamiyah dengan cara memperlakukan saudaranya dengan sebaik-baik perlakuan.

2.      Upaya bersinergi dalam kebaikan.
Poin ini merupakan salah satu keuntungan dari silaturahmi. Dengan bertemu sanak saudara di rumah, akan terjadi saling bertukar informasi yang dibawa dari kota rantau masing-masing. Saling bertanya kabar dan keadaan satu sama lain. Bukan berniat untuk pamer kesuksesan, tetapi lebih kepada saling memberdayakan satu sama lain. Bisa jadi dari hasil bertukar informasi ada sesuatu yang bisa disinergikan menjadi kebaikan bersama.
Sebagaimana sabda Rasulullah “Barangsiapa yang ingin dimudahkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya menyambung tali kerabat” (HR.Muttafaqun ‘alaihi).


BACA JUGA : Ramadan ; Melatih Kepedulian Terhadap Kaum Dhuafa


3.      Memupuk rasa syukur
Tidak elok jika kegiatan mudik dijadikan adu gengsi, pamer kekayaan dan kesuksesan. Akan lebih baik jika kegiatan mudik dijadikan sebagai sarana memupuk rasa syukur. Bersyukur masih mudik. Bersyukur masih memiliki keluarga. Bersyukur masih berkesempatan membahagiakan dan memuliakan orang tua. Bersyukur masih berbagi dengan orang lain. Bersyukur bisa saling senyum dan saling sapa. Dan bersyukur untuk apa saja. Alasan-alasan untuk bersyukur itulah yang harus dicari dan dipupuk agar kita termasuk orang yang pandai bersyukur. 

Orang yang pandai bersyukur akan lupa caranya mengeluh. Orang yang tidak suka mengeluh tanda orang bahagia.

Semoga kita dapat menempatkan mudik sebagai sarana mempererat tali silaturrahim, membangun sinergi kebaikan, dan menjadi orang yang pandai bersyukur. 

Oleh : Masruhin Bagus

0 Comments