Widget HTML Atas

10 Proses Kreatif Dalam Menulis Artikel

menulis artikel
Proses kreatif menulis artikel

10 Proses Kreatif Dalam Menulis Artikel. Proses kreatif dalam menulis adalah proses mencipta atau melahirkan sebuah tulisan. Bisa jadi setiap penulis memiliki cara yang berbeda-beda. Kebiasaan dalam menulis juga berbeda-beda. Hasil tulisannya pun memiliki kekhasan dan keunikan masing-masing. Seperti waktu dalam menulis, gaya menulis, model tulisan dan lain sebagainya. Dan saya akan berbagi pengalaman itu.

Berikut 10 Proses Kreatif Dalam Menulis Artikel

1. Menulis gaya Storytelling

Jujur, hingga saat ini dalam menulis, saya belum menemukan style yang benar-benar sesuai dengan khas tulisan saya. Gaya menulis saya masih berubah-ubah. Saya menyukai gaya menulis bertutur atau bercerita (story telling)  karena dengan gaya storytelling, tulisan ilmiah menjadi ringan dan santai. Sehingga mudah saya pahami. Seperti tulisan Cak Nun, Hernowo, Jamil Azzaini, Mardigu Mowiek, dan lain-lain.

2. Memilih jenis paragraf 

Dalam menulis artikel, teknik yang paling sering saya gunakan dan lazim digunakan oleh penulis lainnya adalah memulai dengan pendahuluan, isi, dan penutup. Untuk teknik menulis paragraf, saya menggunakan paragraf deduktif. Yaitu menuliskan kalimat utama di awal kalimat dan diteruskan dengan kalimat-kalimat penjelas. Di bagian pendahuluan biasanya saya membukannya dengan hal-hal umum tentang tema yang akan dibahas dalam tulisan, kemudian menariknya ke dalam hal yang khusus, pembahasan inti, kemudian diakhiri dengan sebuah kesimpulan.

3. Melakukan riset dan membaca

Sebelum menulis, saya mengumpulkan bahan terkait tema yang akan dibahas. Baik bahan dari buku-buku maupun riset online. Untuk menghindari kesalahan referensi dari sumber online, biasanya saya mengecek penulisnya, mengkomparasikan dari sumber lain, dan pengecekan langsung dari sumber-sumber offline berupa buku, Al QurĂ¡n atau kitab. Tidak semuanya. Hanya untuk pendapat-pendapat atau statement yang janggal atau ada kalimat yang tidak saya pahami.

4. Membuat outline atau kerangka

Supaya tulisan tidak melebar kemana-mana saya sering membuat batasan berupa kerangka atau outline. Merumuskan poin-poin yang akan dibahas. Tujuannya agar tetap ada keterkaitan antar paragraf. Biasanya saya kaitkan dengan rumusan masalah yang akan dibahas.

5. Memakai rumus 5 W + 1 H

Untuk menulis artikel sebaiknya tulisan harus rasional, logis. Nah, agar tulisan itu rasional saya sering memakai kaidah jurnalistik yaitu 5 W + 1 H. What, who, where, when, why, dan how. Dari beberapa pertanyaan tersebut dicari jawaban yang terbaik berdasarkan referensi berbagai sumber. Bukan jawaban yang klise. Kemudian memunculkan sikap kritis terhadap jawaban, termasuk jawaban atau pendapat dari diri sendiri.

Tahapan dalam menulis artikel

Bagaimana memulai sebuah tulisan? Biasanya saya melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Mengeksekusi ide dan menentukan tema.

Misalnya saya akan menulis tentang tema masa pandemi. Dari tema pandemi ini banyak ide-ide yang bermunculan. Dengan mengamati hal-hal yang berkaitan dengan pandemi. Topik tersebut dapat dilihat dari berbagai sudut. Misalnya dari sudut sosial, ekonomi, pendidikan, agama, dan lain sebagainya. Dari berbagai ide yang muncul kemudian saya eksekusi menjadi kalimat yang lebih panjang. Biasanya nanti akan saya gunakan menjadi sebuah judul. Misalnya Pembelajaran Daring pada Masa Pandemi.

2. Merumuskan masalah

Setelah mengeksekusi ide dan menentukan tema. Saya munculkan pertanyaan-pertanyaan yang merupakan permasalahan yang nantinya akan dijawab dan dibahas. Misalnya: Apa yang dimaksud pembelajaran daring? Apa yang maksud masa pandemi? Bagaimana pelaksanaan pembelajaran daring? Dan beberapa pertanyaan lain yang berkaitan. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, kemudian saya melakukan riset. Mencari referensi dan mengumpulkan jawaban-jawaban dari berbagai pendapat. Kemudian saya tambahkan atau menyepakati salah satu pendapat sebagai opini penulis.

3. Menuliskan paragraf pertama

Bagaimana mengawali sebuah tulisan? jika saya mengalami kemacetan dalan menulis alias buntu, saya mengawalinya dengan menjelaskan pengertian dari kata-kata dalam judul. Misalnya paragraf pertama dengan menjelaskan pengertian dari kata-kata yang saya tulis dalam judul. Bisa pengertian dari kamus atau ensiklopedia. Kemudian paragraf kedua, saya menambahkan pendapat dari orang yang kompeten dalam tema tersebut. Kemudian paragraf ketiga, saya melakukan perbandingan antara pengertian dari kamus dengan pengertian dari pendapat-pendapat ahli. Dan paragraf yang keempat, saya susun dengan pernyataan pribadi berdasarkan pengertian-pengertian yang ada.

4. Pembahasan inti tulisan

Dari paragraf yang sudah tersusun tersebut kemudian dikembangkan sesuai rumusan masalah yang akan dibahas. Pembahasan permasalahan ini merupakan intinya inti. (core of the core, hiks!). Menjawab semua pertanyaan yang ada. Jelas dan detail, mewakili judul yang ditulis. Dilengkapi dengan referensi yang jelas. Tidak bertele-tele dan tuntas.

5. Membuat kesimpulan.

Terakhir, mengakhiri sebuah tulisan. Saya mengakhiri sebuah tulisan dengan kesimpulan. Yaitu memberikan simpulan dari tema yang dibahas. Kesimpulan ini merupakan konklusi dari permasalahan yang dibahas. Biasanya saya tambahkan dengan kalimat ajakan dan saran. Mengajak pembaca untuk ikut serta merasakan apa yang penulis rasakan. Bisa pula berupa saran atau motivasi dari masalah yang dibahas.

Kesimpulan

Demikian proses kreatif saya dalam menulis artikel. Berupa pengalaman personal dalam melahirkan sebuah tulisan. Saya masih terus berproses dalam belajar menulis. Masih melakukan apa yang disebut benchmarking dari seorang penulis senior. 

Untuk menulis artikel atau tulisan non fiksi harus menerapkan kaidah jurnalistik agar tulisan tetap ilmiah dan rasional. Menyusunnya dengan pendahuluan, isi atau pembahasan, dan penutup atau kesimpulan. Teknik menulis atau proses kreatif setiap orang berbeda-beda, tergantung kenyamanan menggunakan cara seperti apa. Yang penting tetap semangat menulis dan terus menulis, karena tugas menilai hasil tulisan adalah pembaca. Tetap semangat menulis!

13 comments for "10 Proses Kreatif Dalam Menulis Artikel"

  1. Keren artikelnya. Aku udah mengikuti langkah-langkah di atas. Menurutku yang paling sulit dan lama mikirnya tuh paragraf pertama. Udah itu bikin judul yang menarik. Judul suka aku utak-atik lagi sih...hehe...

    ReplyDelete
  2. saya juga masih gadp-gado nih gaya nulisnya mba, disesuaikan dengan kebutuhan. Kadang pakai gaya story telling kadang juga dengan studi kasus atau dengan style pendahuluan - isi penutup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kak, tekniknya gado2, tema yg ditulis juga gado2, hidup gado2, he he...

      Delete
  3. Aku juga nih masih gado-gado kalau nulis, kadang storytelling, kadang ya mengalir aja gitu. Kadang bikin outilne, kadang langsung nulis. Kadang bikin blogplan kadang ada ide langsung eksekusi hihi.

    ReplyDelete
  4. Gaya nulisku juga campuran, bahkan lebih sering ke sistem kebut semalam. Digarap waktu hari deadline hahahaa. Padahal kalau dikerjakan tenang dengan storytelling yang oke dan riset maksimal, hasilnya pasti keren abis

    ReplyDelete
  5. Beberapa teknik di atas sudah saya terapkan. Tapi lebih sering menulis ngalor ngidul, kemudian dirapikan sambil tambal sana-sini kalau kurang sesuai. Sebenarnya enggak baik, lebih mantap kalau direncanakan dan dieksekusi secara sistematis, hehe.

    ReplyDelete
  6. Menulis kreatif memang diperlukan untuk pengembangan menulis dan menyusun kalimat, berlama-lama membaca jadi menyenangkan

    ReplyDelete
  7. Saya blm pakaib tehnik, kadang mengalir gitu aja. Jadi saya harua banyak belajar menulis. makasih atas paparannya, jd punya gambaran menulis yg baik tu gimana hehe

    ReplyDelete
  8. Saya kalau menulis jarang memperhatikan dari cara diatas langsung nulis sesuai keinginan gitu aja

    Mungkin karena itu ya sering kalah dalam lomba blog kayaknya

    ReplyDelete
  9. bener ya, seharusnya para content writer mengikuti step-step ini dalam menulis artikel agar arrtikelnya berisi dan berbobot serta dapat membawa manfaat bagi sesama ya

    ReplyDelete
  10. dari semua proses diatas tu , reset dan membaca itu yang paling berat wkwk padahal penting banget untuk kualitas tulisan kita agar full informasi dan bermanfaat

    ReplyDelete
  11. Sejak dulu, menulis itu rumusnya sama ya. Yang menentukan kemudian adalah karakter, pengetahuan, dan motivasi seseorang dalam menulis.

    ReplyDelete
  12. Siip banget langkah-langkahnya. Saya sendiri gaya menulisnya masih berubah-ubah, lebih sering mengikuti jemari dan hati saja mau menulis jenis apa, semengalirnya aja. Seringnya enggak mengikuti rumusan penulisan, enggak menulis outline, langsung saja tuang yang ada di kepala, hihi malah pernah blank ketika diminta bikin outline dulu waktu di kelas menulis, :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak yang positif. Mohon tidak meletakkan link hidup. Salam blogger!