Widget HTML Atas

6 Langkah Menjadi Sahabat Bagi Anak

menjadi sahabat bagi anak

6 Langkah Menjadi Sahabat Bagi Anak.- Mendidik anak bukanlah hal yang mudah, orang tua dan guru harus terus menambah ilmu dan meng-upgrade pengalaman. Perlakuan dan penanganan yang tidak tepat dapat berakibat fatal. Masih banyak kita temui, pola-pola konvensional dan kurang efektif dalam memperlakukan anak. Misalnya dalam menanamkan kedisiplinan, pola mendidik dengan kekerasan fisik masih sering terjadi dan dilakukan oleh orang tua atau guru. Seperti memukul, keplak, jewer, cubit, dan sebagainya. 

Mengapa kita harus menjadi sahabat bagi anak?

Sebagai orang tua atau guru, menginginkan anak dapat menerima dan menjalankan nasihat dan bimbingan yang kita berikan. Apalagi anak yang sudah beranjak remaja, tentu berbeda cara memperlakukannya. Ada 6 cara tepat menasihati remaja, sebagaimana artikel sebelumnya. Diantaranya adalah harus bisa menjadi sahabat bagi anak.

Sebagaimana dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam. Yang pertama adalah melalui Keteladanan atau Qudwah, Yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah, Yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasihat atau Mau’izhoh, Yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh, Sedangkan yang terakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sanksi atau Uqubah. 

Selanjutnya tahapan pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abi Thalib ra, dapat dibagi menjadi tiga tahapan/penggolongan usia: Tahap pertama adalah tahap bermain (“laa-‘ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira umur 7 tahun. Tahap kedua, tahap penanaman disiplin (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira umur 7 tahun sampai 14 tahun. Dan tahap ketiga, tahap kemitraan (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas. 

Ketiga tahapan pendidikan di atas mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Maka ada baiknya memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya. 

Pada tulisan kali ini, saya sedikit mengulas tulisan dari Ust. Cahyadi Takaraiawan tentang bagaimana menjadikan anak kita sebagai sahabat. Hal ini sesuai dengan tahapan pendidikan menurut Sahabat Ali ra yaitu pada tahapan menjadi anak sebagai sahabat atau mitra. Jika disamakan pada jenjang sekolah yaitu jenjang menengah pertama ke atas. Lalu bagaimana mendidik anak pada tahapan tersebut? 

Ada 6 Langkah Menjadi Sahabat Bagi Anak

Pertama, Terimalah Anak dengan Segala Potensinya. 

Hendaknya orang tua (guru) mampu menerima anak dengan sepenuh hati. Bagaimanapun kondisinya. Anak yang merasa diterima oleh orang tua, akan tumbuh dalam kondisi nyaman dan percaya diri. Sebaliknya, anak yg merasa tertolak atau tidak diterima oleh kedua orang tua, akan tumbuh dalam suasana yang tidak nyaman dan dipenuhi penyesalan bahkan pemberontakan. 

Saat anak merasa dirinya selalu dipermasalahkan oleh orang tua atau gurunya (sering dikatakan biang pelanggaran, anak memalukan, biang onar, nilai raport tidak pernah bagus, anak nakal, dan lain-lain) maka yang terjadi adalah pemberontakan. Ia merasa terluka dan tidak diterima. Lambat laun tumbuh perasaan tidak bermanfaat dalam dirinya. Dan seiring waktu, jika tidak ada penanganan yang tepat, ia akan benar-benar membuktikan pada orang tuanya/gurunya bahwa ia benar-benar anak yang memalukan dan tidak bermanfaat bagi mereka. Ia menjadi pemberontak. 

Jika situasinya sudah seperti ini, akan lebih susah untuk menjadi sahabat bagi diri anak. Jangan menunggu anak memberontak baru berusaha menjadi sahabat bagi anak. Jangan menunggu anak melarikan diri dari rumah, baru bisa menerima kondisi anak apa adanya. Jangan menunggu anak melawan orang tua, baru menyadari kesalahan pola asuh selama ini. Jadilah sahabat bagi anak, dengan menerima apa pun kondisi mereka. 

Jika kondisi mereka belum baik, sikap penerimaan orang tua itu akan membuat anak merasa nyaman dan lebih mudah untuk diarahkan. Para orang tua/guru hendaknya menunjukkan sikap penerimaan sepenuhnya atas kondisi anak, yang membuat anak merasa nyaman berada di rumah bersama keluarga dan nyaman di sekolah. Kalau anak merasa tidak diterima di rumah/di sekolah, ia akan kabur dari rumah/sekolah dan akan semakin sulit diajak kembali kepada kebaikan. 

Kedua, Jadilah Pendengar yang Baik untuk Anak. 

Hendaknya para orang tua/guru bisa telaten dan sabar untuk menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak, sehingga mereka merasa dihargai dan dicintai. Menjadi sahabat yang baik, artinya selalu siap mendengarkan keluhan dan cerita anak-anak. Berikan respon yang positif saat anak-anak bercerita atau tengah curhat, karena dengan respon itu membuat mereka mengerti bahwa orang tua/guru tengah memperhatikan pembicaraannya. Ajukan berbagai pertanyaan ringan seputar ceritanya, namun jangan sampai membuat mereka merasa diinterogasi dan tidak nyaman. 

Berikan pendapat yang bisa dimengerti sebagai anak-anak, tetapi jangan meluapkan emosi dan kemarahan saat orang tua/guru merasa mereka telah melakukan kesalahan. Luruskan kesalahan mereka dengan cara lembut dan bijak, cobalah menggali pendapat mereka dengan berbagai pertanyaan yang menggugah. Apalagi pada anak remaja, pada dasarnya mereka tidak suka didikte dan digurui. Mereka ingin belajar, mereka mau berubah, namun mereka juga ingin diakui hak-haknya untuk memiliki masa muda yang indah. 

Sebagai sahabat, semestinya para orang tua atau guru pandai mengarahkan anak-anak agar tetap berada di jalan yang lurus, tidak menyimpang, tidak larut dalam pergaulan bebas, tidak terlibat dalam berbagai penyelewengan moral. Tanpa harus mendikte dan menggurui, Orang tua/guru bisa membimbing mereka menuju kebaikan budi pekerti. 

Ketiga, Libatkan Diri dalam Kegiatan Anak 

Menjadi sahabat artinya para orang tua/guru harus selalu berupaya memahami apa yang disukai dan tidak disukai anak-anak. Para orang tua/guru harus mampu menyelami dunia anak-anak. Dengan menemani dan mendampingi anak bermain dan belajar, orang tua akan paham kebiasaan serta karakter anak. Cermati apa yang mereka lakukan saat bermain atau belajar. Perhatikan kreativitasnya dari aktivitas keseharian baik di rumah maupun di sekolah. Dengan melakukan kegiatan bersama anak secara telaten dan sabar, para orang tua/guru dapat memahami kelebihan dan kekurangan anak, memahami kondisi anak, mengerti situasi hati anak, mengerti hal-hal yang disenangi serta tidak disenangi anak, mengerti cara memasuki hatinya. Anak akan bangga ketika orang tua/guru hadir membersamainya. 

Keempat, Berikan Penghargaan dan Konsekuensi (reward and punishment). 

Ketika anak berbuat salah, hendaknya para orang tua/guru bisa menegur dengan bijak. Jika perlu, berikan konsekuensi yang bersifat mendidik. Namun jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan dan merasa direndahkan, apalagi dengan bentakan, hardikan, pukulan, tendangan serta tindakan fisik lainnya. Hal-hal itu akan menyakiti hati anak-anak, membuat anak merasa tidak diterima, merasa terbuang, tersisihkan dan bisa menimbulkan rasa dendam. 

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara mendidik dengan memarahi. Mendidik adalah tindakan sadar, terencana dan terprogram untuk membawa anak menuju kondisi yang lebih baik. Sedangkan memarahi adalah ledakan atau luapan emosi sesaat yang tidak terprogram dan tidak dengan kesadaran. Boleh memberi ‘hukuman’ jika anak melakukan kesalahan, namun bukan dengan kemarahan. Menghukum atau memberikan konsekuensi dilakukan dengan landasan cinta dan kasih sayang. 

Sebaliknya, berikan pujian dan penghargaan untuk setiap keberhasilan yang diraihnya (sekecil apapun) agar ia merasa diterima, dihargai, dicintai, dan membuatnya lebih termotivasi. Menjadi sahabat artinya berani bersikap jujur, tidak hanya menyenangkan hati anak-anak, tetapi juga berani menyatakan kesalahan sekaligus membantu memperbaiki kesalahan atau kekurangan anak-anak. Sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur, tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti. 

Kelima, Berikan Kepercayaan terhadap Anak 

Sebagai sahabat, hendaknya para orang tua/guru bisa memberikan kepercayaan kepada anak untuk mencoba melakukan sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya selama tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Cara ini akan menumbuhkan kepercayaan diri anak, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Kadang orang tua dan guru terlalu preventif, sehingga anak-anak terkekang kebebasan dan kreativitasnya. Terlalu banyak larangan di rumah, terlalu banyak larangan ketika di sekolah yang membuat anak merasa tidak dipercaya. Sebaliknya, ada pula orang tua dan sekolah yang terlalu permisif, sehingga anak-anak terlarut dalam kebebasan tanpa batas. Mereka berpesta pora dalam aneka kesenangan yang menyesatkan dan memabukkan. Yang diperlukan adalah sebuah kepercayaan timbal balik antara orang tua dengan anak. Kepercayaan orang tua/guru tidak akan disalahgunakan oleh anak, sebaliknya kondisi orang tua/guru juga harus bisa dipercaya anak. 

Keenam, Jadilah Teladan bagi Anak 

Hingga saat ini pemberian keteladanan adalah cara paling efektif dalam mendidik anak. Maka orang tua dan guru hendaknya mampu menjadi teladan bagi anak-anak. Menjadi sahabat, artinya harus memberikan nasihat secara bijak untuk mengarahkan anak menuju kebaikan. Nasihat kebaikan itu baru memiliki makna dan diterima anak, apabila mereka mengetahui orang tua/guru memang layak menjadi teladan dalam kebaikan. Anak-anak akan merasa nyaman ketika memiliki orang tua yang bisa ditiru dan dicontoh. 

Ketiadaan teladan dari orang tua/guru membuat anak-anak mudah putus asa dan tidak memiliki seseorang untuk dipercaya. Maka sangat penting bagi orang tua atau guru untuk selalu berusaha memberikan keteladanan dalam kebaikan, karena apa pun yang dilakukan orang tua/guru akan selalu menjadi inspirasi bagi anak-anak. 

Demikian enam cara menjadi sahabat yang baik bagi anak. Dengan menjadi sahabat bagi anak kita sebagai orang tua atau guru akan lebih mudah dalam memahami anak, membangun hubungan komunikasi yang lancar dengan anak, mendapatkan kepercayaan dari anak, memperkuat ikatan batin dengan anak, dan mudah mengarahkan serta menasihati anak. 

Dengan menjadi sahabat bagi anak, orang tua atau guru akan mendapatkan berbagai hal yang memudahkan mereka dalam mendidik, membimbing, mengarahkan dan membantu anak-anak menuju kehidupan yang sukses di dunia dan akhirat, Anak-anak yang memberikan keberkahan hidup bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

19 comments for "6 Langkah Menjadi Sahabat Bagi Anak "

  1. Anak sulungku 15 tahun, saatnya jadi sahabat. Susahnya hari gini harus pinter-pinter , karena bisa aja anak manis di depan kita di luaran enggak ternyata, naudzubillah. Keenam tipsnya keren dan benar adanya. Yang pertama hari gini di tengah maraknya postingan di sosial media sering bikin iri. Lihat anak orang lalu membandingkan. Lupa jika anak punya potensi sendiri...

    ReplyDelete
  2. Benar banget, ke enam langkah tersebut pernah saya praktekan kepada siswa-siswi saya ( anak SMA) dan hasilnya sangat diluar apa yang kita harapkan, jadi saya lebih mudah jika berkomunikasi dengan mereka

    ReplyDelete
  3. Yang terakhir itu PR sepanjang masa ya sepertinya. Jadi teladan. Sampai sekarang masih selalu berusaha biar jadi teladan meskipun kelakuan masih jauh banget dari apa yang dicontohkan Rasul 😭😭 aduh jadi mellow dan sedih.

    ReplyDelete
  4. Anak saya umur 8 tahun, berarti masuk tahap kedua ya? Penanaman disiplin.
    Setuju dengan poin-poin yang disampaikan. Beberapa sudah coba saya lakukan, dan memang outputnya tampak bisa lebih dekat sama anak.

    ReplyDelete
  5. Kalau anakku masih di tahap pertama nih, melalui keteladanan. Kitab Tarbiyatul Aulad memang komplit banget ya bahasannya, wajib punya para ortu muslim ❤️

    ReplyDelete
  6. Bener banget nih mas, orang tua juga tidak boleh membandingkan anak satu dengan lainnya. Dan anak paling senang kalau diberi rewards untuk menambah semangat dalam belajar misalnya.

    ReplyDelete
  7. Aku belum punya anak sih kak, menikah aja belum ehehe. Tapi ini bisa juga kan ya kalau diterapkan ke keponakan, karena ku juga ingin jadi sahabatnya keponakan :) dan jadi bekalku nanti saat menjadi orang tua. Yang keenam tuh bagian jadi teladan, PR banget deh aku.

    ReplyDelete
  8. Menjadi sahabat anak memang kunci utama agar anak bisa dekat dengan kita. Terutama nanti saat masanya puber. Duh, ngeri kalau dia gak dekat dengan kita. ini yang samapi sekarang kami usahakan menjadi sahabat buat mereka

    ReplyDelete
  9. Insya Allah lagi on process ini saya mba, menerapkan keenam stepnya. Semoga anak bertumbuh menjadi anak-anak ceria dan semangat.

    ReplyDelete
  10. Intinya memang pada komunikasi kita terhadap anak ya Mas. Komunikasi yang baik akan menjalin ikatan hati, kalau anak hatinya sudah terikat dengan baik sama orang tua, apapun kata orang tua insyaa Allah akan diturutinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, jangan ada jarak dengan anak, selalu hangat dalam komunikasi

      Delete
  11. Yes yang paling akhir yang paling penting. Jadi teladan. Jadi mas ketika kita mau anak menjadi shaleh, ya kita harus jadi orangtua yang Shaleh dulu .Kasih contoh.

    ReplyDelete
  12. Saya baru akan punya anak, tapi saya punya siswa. Postingan ini bikin saya melek dan sadar apa yang harus saya lakukan. Menarik mbak, gaya bahasanya juga enak. Salam kenal

    ReplyDelete
  13. Sebagai ibu yang terpisah jarak dengan anak karena tugas mengabdi, sebisanya saya lakukan pada anak. Jika saya pulang, waktu saya pergunakan hanya untuk anak sehingga mereka lebih dekat dengan kita.

    ReplyDelete
  14. Betul sekali Kak, sebagai orang tua kita memang harus bisa menjadi sahabat bagi anak kita sendiri. Jangan sampai anak kita menemukan tempat nyaman untuk curhat, namun salah tempat. Trims sharing artikelnya ya Kak

    ReplyDelete
  15. walau aku belum berkeluarga tapi ini 6 langkah yang agar orang tua dapat menjadi sahabat bagi anak , dan jangan pernah membandingkan juga anak yang satu dengan yang lain apalagi membandingkan dengan anak orang lain karena potensi setiap anak kan beda-beda ya.

    ReplyDelete
  16. wah jadi sahabat anak...kalau skrg aku masih jadi teman main, fasilitator anak nih secara masih balita. semoga nanti bisa seperti sahabat semenyenangkan itu ya aamiin

    ReplyDelete
  17. Setuju banget dengan poin memberi reward pada anak bukan berarti memanjakan atau menjanjikan sesuatu, tetapi harus itu biar anak semangat

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak yang positif. Salam blogger!

Berlangganan via Email