Guru sebagai Teladan dalam Ukhuwah


Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa seyogyanya menjadi tugas bersama. Kapasitasnya sebagai apapun harus ikut serta memupuk dan merawat persatuan dan kesatuan bangsa. Menjaga keutuhan bangsa dan negara lebih penting daripada keutuhan dan kepentingan kelompok. Kita tidak boleh terjebak dalam fanatisme kelompok yang membabi buta. Dengan menganggap yang berbeda dengan kita adalah sesat. Menjadi lawan yang harus diperangi. Bukankah yang patut diperangi adalah mereka yang termasuk kategori kafir harbi? Atau mereka, orang-orang atau sekelompok orang yang dengan terang-terangan mengancam dan merongrong persatuan dan kesatuan bangsa. Ini yang harus kita lawan.

Jika hari ini, kapasitas kita sebagai guru, maka kita harus menanamkan kepada anak didik kita akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan cara apa? Guru sebagai pendidik harus mendidik anak-anak untuk memiliki sikap atau karakter yang baik. Yaitu : Pertama, Religius, siswa harus memiliki sikap keberagamaan yang baik. Sikap yang harus ditumbuhkan adalah beriman dan bertaqwa, bersih, toleransi, dan cinta lingkungan. Kedua, Nasionalis, sikap yang harus ditumbuhkan adalah cinta tanah air, semangat kebangsaan, dan menghargai kebhinekaan. Ketiga, Integritas, karakter yang ditumbuhkan adalah nilai kejujuran, keteladanan, kesantunan, dan cinta pada kebenaran. Keempat, Mandiri, karakter yang harus ditumbuhkan adalah kerja keras, kreatif, didiplin, berani, dan pembelajar. Dan kelima, gotong royong, karakter yang ditumbuhkan adalah kerjasama, solidaritas, saling menolong, dan kekeluargaan.

Kelima hal di atas merupakan karakter utama yang diharapkan menjadi ruh dari pendidikan nasional. Maka sebelum guru mendidik dan menanamka nilai-nilai karakter di atas, guru harus memiliki nilai-nilai karakter tersebut terlebih dahulu. Bagaimana mungkin guru akan mendidik karakter dengan baik? Jika guru belum bisa menjadi teladan yang baik.

Guru sebagai pengajar harus memberikan dan mentransfer pengetahuan yang mendalam dan wawasan yang luas. Dengan pengetahuan yang mendalam dan luas, siswa akan lebih arif dan bijaksana dalam menghadapi sebuah persoalan. Memandang permasalahan dalam berbagai sudut pandang. Memutuskan sebuah perkara dengan adil dan bijaksana. Dengan mempertimbangkan ke-maslahatan dan mafsadat-nya. Guru yang memiliki wawasan yang luas, tidak akan gegabah dalam menghadapi permasalahan. Karena guru mengetahui arah permasalahan dan cara penyelesaianya. Guru sudah mengetahui dan memiliki ilmunya.

Jadi, yang harus dimiliki oleh guru dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan bangsa adalah menjadi teladan dalam dua hal yaitu kemuliaan akhlak dan keluasan ilmu. Inilah yang penting. Seharusnya dua hal ini berbanding lurus. Semakin tinggi ilmu seseorang seharusnya semakin baik akhlaknya. Semakin rendah hati dan semakin bijaksana dalam menghadapi persoalan. Seperti ilmu padi, semakin tua semakin merunduk karena berisi. Menunjukkan ke-rendah hati-an, tawadhu’, tidak ujub dan sombong. Jika padi masih belum merunduk berarti padi tersebut masih ‘kopong’ alias belum berisi. Jika ada seseorang mengaku berilmu tinggi tapi tidak tawadhu’, masih ujub dan sombong, bisa jadi ia masih ‘kopong’. Itu !

Mengakhiri tulisan ini saya akan menambahkan sebuah firman Allah yang memerintahkan kepada kita untuk senantiasa menjaga ukhuwah dan jangan mudah berpecah belah. Allah berfirman : Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS Al Hujurat: 10) 

Dalam firman Allah yang lain : Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu. dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang  yang beriman (QS al Anfal: 1)

Dari ayat di atas, semoga kita menjadi bagian dari umat yang beriman dan bertakwa, yang senantiasa menyerukan ukhuwah, menjalin persatuan dan kesatuan, tidak mudah terpancing dengan isu pertikaian dan permusuhan. Menjadi teladan umat yang mengedepankan ukhuwah dengan akhlaqul karimah. Wallahu a’lam.

*refleksi Hari Guru 2018 
Referensi : berbagai sumber
Sumber gambar : pixabay.com
 
 

0 Comments