5 Hal ‘Gak Penting’ tentang Fenomena Era Disrupsi dan Literasi



Teknologi digital ini akan menjadi baik atau tidak, tergantung berada di tangan siapa. Di tangan orang kreatif, muncullah banyak lapangan pekerjaan dengan hanya mengandalkan smartphone dan kuota internet.  Sebaliknya, ditangan orang malas dan pasif, mereka hanya jadi pengguna saja. Yang demikian masih mending, daripada sudah tidak berbuat apa-apa, tetapi hanya bisa ‘nyinyir’ dan mencela.

Ada beberapa hal yang ingin saya catat dalam tulisan pendek ini. Tentang era disrupsi berkaitan dengan dunia literasi

Pertama, era disrupsi atau lebih dikenal dengan era revolusi industri 4.0 merupakan era yang merubah dan mengacaukan gaya hidup dan kerja manusia. Era ini didominasi oleh peran internet, digital, dan serba online. Era ini mendisrupsi peran manusia dalam segala hal. Termasuk dalam dunia industri. Sehingga ada beberapa industri yang stagnan atau bermetamorfosa. 

Misalnya saja, beberapa tahun yang lalu, untuk mendapatkan buku-buku yang bagus, harus datang ke toko buku atau mendatangi perpustakaan. Era ini mendisrupsi toko-toko buku. Sekarang sangat banyak toko-toko buku online, bermunculan buku elektronik atau ebook. Begitu juga untuk yang lainnya.

Kedua, literasi adalah suatu kemampuan seseorang untuk menggunakan potensi dan keterampilan dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas membaca dan menulis. Lantas, bagaimana budaya membaca dan menulis di era disrupsi?

Ketiga, pada era ini, minat membaca buku menjadi berkurang dan beralih. Saya tidak ingin gegabah dan mengeneralisir fenomena ini. Tapi berdasarkan fakta empiris penulis, buku yang berbasis kertas kini sudah banyak ditinggalkan. Beralih ke ebook dan teks online. Saya lebih suka berjam-jam membaca tulisan-tulisan di media sosial daripada mendatangi perpustakaan. Saya lebih suka informasi berbasis video daripada teks tulisan. Memang ada beberapa alasan yang membuat demikian. Salah satunya, untuk buku yang sama, jenis buku kertas semakin mahal sedangkan elektronik book lebih murah.  Selain itu, ebook mudah didapat dan terkadang tidak berbayar alias gratis.

Keempat, budaya Copy-Paste tidak terbendung, Hoax semakin disanjung. Entah karena rasa malas atau ingin mengambil keuntungan lain, informasi yang deras kian tidak tersaring. Bahkan tidak ada rasa malu jika ada yang ketahuan melakukan plagiat. Tulisan orang diakui sebagai tulisannya. Dengan mengcopy-paste dan mengganti nama penulis asli dengan nama dirinya. Bahkan ada juga, biar terlihat eksis di media sosial, tulisan yang belum jelas sumbernya dan belum jelas kebenarannya, langsung share kemana-mana. Apakah ada yang seperti ini ? banyak sekali jenisnya.

Kelima, daya kritis berkurang. Menganggap semua informasi yang tersebar adalah benar. Padahal jika informasi tersebut salah, akan menjadi kesalahan berantai. Memungkinkan juga menjadi kegaduhan dan kekacauan. Terkait hal ini, saya teringat bahwa di abad 21 seseorang harus memiliki ketrampilan 4 C. Skill ini harus dimiliki untuk menghadapi era sekarang. 4C itu adalah critical thinking, creativity, collaboration, and communication

Berpikir kritis menuntut kita mampu menjadi bagian dari problem solving. Dengan berpikir kritis kita tidak mudah terbawa arus. Daya saing dan daya saring harus ditingkatkan. Kedua, kreatif itu berpikir di luar kebiasaan orang lain berpikir (outside the box). Ketiga, Collaboration itu bagaimana orang dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan communication adalah bagaimana mengungkapkan ide-ide terbaik menjadi sesuatu yang mudah dipahami orang lain. Kompetensi ini yang harus dimiliki generasi sekarang, karena rata-rata mereka memiliki ide tetapi bingung dalam mengkomunikasikan. Ide tinggal ide. Gagasan itu hilang sebelum berkembang.

Akhirnya, zaman boleh berganti tetapi skill literasi tidak boleh terdisrupsi. Ini yang penting !. Semangat berliterasi. Semoga semua menjadi penting dan bermanfaat.

0 Comments