Belajar Kebersihan di Negara Singapura





Bercerita tentang negara Singapura tidak lepas dari beberapa ikon Negara Singapura. Beberapa ikon Singapura yang juga menjadi destinasi wisata itu seperti  Merlion Park, Universal Studio, Esplanade, Singapore Flyer, Marina Bay Sand, Mustafa Market, dan lain-lain. Bahkan ada yang bilang belum ke Singapura kalau belum mejeng di depan Patung Singa alias Marlion Park. Begitulah Singapura membangun negaranya menjadi jujugan wisatawan dari negara-negara lain. 

Marina Bay & Sigapore Flyer

Ketika saya berkunjung ke negara Singapura, maka ada satu kata untuk negara tersebut yaitu BERSIH. Saya tidak melihat ada sampah berserakan. Semua sudut kota terlihat bersih dan rapi. Tidak salah jika Negara Singapura mendapatkan predikat negara terbersih keempat dunia menurut EPI (environtment Protection Index). Sedangkan Negara Indonesia ada di peringkat 112. Kita masih tertinggal jauh. 

Marlion Park

Bagaimana Singapura menjadikan kotanya bersih dan rapi?

Dalam menjaga kebersihan, Singapura menerapkan beberapa cara, salah satunya adalah memberlakukan denda. Bagi orang yang membuang sampah sembarangan maka akan dikenakan denda. Ini berlaku untuk semua orang yang berada di wilayah Singapura tak terkecuali wisatawan dari luar Singapura.  Denda bagi pembuang sampah sembarangan yang tertangkap adalah dollar Singapura. Maksimum dendanya adalah $5.000 (Rp. 50 juta).
So, hati-hati jika jalan-jalan ke Singapura. Jangan buang sampah sembarangan. Karena CCTV ada dimana-dimana.

Penetapan peraturan tersebut merupakan keseriusan dari pemerintah Singapura dalam menjaga kebersihan lingkungan. Dengan denda yang tinggi orang akan berpikir dua kali jika ingin melanggar peraturan. Sehingga kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lambat laun akan terbangun. Lingkungan semakin hari menjadi semakin bersih. Untuk urusan menjaga kebersihan ini bolehlah kita menjadikan Singapura sebagai sumber inspirasi.

Apakah Indonesia perlu memberlakukan peraturan denda? Apakah dengan sistem denda persoalan sampah akan selesai? Kesadaran masyarakat akan terbangun? Tidak ada salahnya peraturan ini dicoba.

Tentang ini, saya teringat peraturan ketika sedang pendakian. Hampir di setiap kawasan wisata gunung menerapkan ini. Salah satu peraturannya adalah membawa kantong plastik untuk tempat sampah. Sampah yang dihasilkan oleh para pendaki harus dimasukkan ke plastik dan dibawa turun kembali. Tidak ada sampah yang ditinggal atau dibuang di area pegunungan. Begitu turun, para pendaki tidak membawa kantong plastik berisi sampah, maka pendaki tersebut harus menerima konsekuensi. Konsekuensi itu berupa denda dengan sejumlah uang, diminta kembali untuk mengambil sampah yang ditinggal, atau memunguti sampah di area pos pendakian atau area pegunungan. 

Untuk di tempat-tempat yang lain saatnya diterapkan peraturan yang sama. Atau mungkin saatnya Indonesia menerapkan denda Rp. 50 juta bagi orang yang membuang sampah sembarangan. Karena terkadang menumbuhkan kesadaran itu perlu peraturan yang memaksa.*

0 Comments