Widget HTML Atas

Fenomena Belajar Islam dari Youtube dan 6 Syarat Menuntut Ilmu

belajar islam dari youtube

Fenomena Belajar Islam dari Youtube dan  6 Syarat Menuntut Ilmu.- Mencari ilmu merupakan kewajiban setiap umat islam. Dari sejak lahir ke dunia hingga meninggalkan dunia. Lebih-lebih belajar Islam. Belajar Islam merupakan yang paling utama. Belajar tentang keimanan, tentang aqidah Islam. Setelah itu baru cabang-cabang ilmu yang lain.

Belajar agama ini sangat penting. Menjadi pondasi dalam menjalani kehidupan di dunia dan juga akhirat. Sehingga mendapatkan ilmu agama ini harus ada bimbingan dari guru. Guru yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahan ilmunya.

Fenomena Belajar Islam dari Youtube

Nah, di era digital sekarang ini, proses mencari ilmu, proses belajar Islam terdapat fenomena baru yaitu belajar Islam dari media online. Seperti WA, Facebook, Youtube, dan lain sebagainya. Hal ini tentu mengkhawatirkan. Karena ilmu tentang Islam yang ada di Internet belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Karena tidak sedikit pengetahuan tentang Islam yang tersebar lewat internet, baik dalam bentuk tulisan, audio, maupun video dibuat tidak utuh atau tidak lengkap. Tujuannya pun bermacam-macam. Termasuk hanya mengejar rating dan materi semata. Tanpa mempertimbangkan akibat yang ditimbulkan.

Menyikapi fenomena di atas, sebagai pembelajar harus memiliki pemikiran yang kritis atau critical thinking. Yaitu tidak menerima informasi baru sebagai kebenaran mutlak, harus mencari sumber-sumber lain yang lebih valid. Tidak menelan informasi mentah-mentah tetapi tetap melakukan proses ‘mengunyah’. Memfilter informasi dengan baik. Jika masih ada keraguan sebaiknya langsung mengkonfirmasi ke sumbernya langsung atau sumber lain yang kita anggap menguasai bidang tersebut. Sebagai upaya menyaring kebenaran.

Belajar Islam artinya belajar Islam secara keseluruhan. Islam sebagai pengetahuan dan sikap atau prilaku. Islam secara tekstual dan kontekstual. Islam sebagai teori dan juga praktik. Sehingga proses belajarnya tidak cukup hanya membaca tetapi memerlukan teladan dan bimbingan seorang guru.

Begitu penting dan mendasarnya Islam, maka proses belajar Islam tidak cukup hanya dari sumber-sumber dari video di youtube atau sumber-sumber lainnya di internet, melainkan harus di bawah bimbingan dan petunjuk langsung dari seorang guru yang kompeten.

Enam Syarat Menuntut Ilmu

Adanya petunjuk guru dalam belajar ini sesuai dengan yang disyaratkan Syeh Azzarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’alim, bahwa syarat mencari ilmu atau syarat belajar ada enam syarat, yaitu:

Pertama, Dzakain, artinya cerdas. Cerdas bukan berarti memiliki IQ yang tinggi tetapi adalah kemampuan menerima pelajaran dengan baik. Kemampuan menerima pelajaran ini memerlukan latihan. Terus diasah sehingga kemampuan menerima pelajaran semakin tajam dan baik. Dalam pemahaman modern, dalam belajar harus menjadi kritis. Pembelajar harus memiliki pemikiran yang kritis atau critical thinking.

Kedua, Hirshin, artinya semangat. Dalam belajar harus memiliki semangat atau kesungguhan. Dengan semangat yang tinggi, segala halangan dan rintangan akan mudah ditaklukkan. Siapa yang bersungguh-sungguh maka ia kan berhasil. Man jadda wajada. Bukti pembelajar yang semangat adalah memiliki ketekunan. Sopo sing tekun bakale tekan. Siapa yang tekun maka akan sampai yang dicita-citakan.

Ketiga, Istibar, artinya sabar. Godaan dan rintangan dalam menuntut ilmu selalu ada. Baik itu godaan dari diri sendiri maupun dari luar. Orang yang berhasil dalam belajar adalah orang-orang yang sabar, tabah, dan teguh. Kesabaran adalah syarat bagi penuntut ilmu. Dengan kesabaran segala bentuk ujian dalam menuntut ilmu akan mudah dilalui. Sulitnya dalam belajar akan mudah dikuasai.

Keempat, Bulghot, artinya biaya atau bekal. Syarat bagi penuntut ilmu adanya bekal atau biaya. Bukan berarti jika tidak ada biaya akhirnya tidak ada belajar. Akan tetapi, jika ada biaya, ada bekal, ada sarana yang memadai, kesempatan untuk belajar akan lebih fokus. Terbatasnya biaya atau bekal bukan menjadi penghalang bagi penuntut ilmu. Jika tiga syarat yang di atas terpenuhi, maka persoalan biaya akan mudah dilewati. Bukankah ulama-ulama hebat dulu juga belajar dalam kondisi terbatas?

Kelima, Irsyad ustadz, artinya petunjuk guru. Syarat belajar yang kelima adalah adanya petunjuk dari guru. Meskipun saat ini peran guru bukan satu-satunya sumber pengetahuan, akan tetapi guru tetap penting sebagai penunjuk dan pembimbing setiap ilmu yang didapat dari penuntut ilmu. Apalagi bagi penuntut ilmu agama, proses belajarnya dibutuhkan pendampingan dari guru. Guru yang bukan sembarang guru, tetapi guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.

Keenam, Tuulizzaman, artinya waktu yang lama. Untuk menjadi ahli ilmu, expert dibidang ilmu tertentu, membutuhkan waktu yang lama. Bukan berarti tidak ada target dalam belajar, tetapi untuk menguasai ilmu hingga menjadi ahli, tidak bisa dicapai dengan cara instan. Karena yang didapat dengan cara instan biasanya akan mudah hilang dan sedikit atau dangkal. Bukankah ulama ahli fiqih umurnya banyak dihabiskan untuk belajar? Hingga karyanya saat ini masih bisa digunakan.

Kesimpulan

Demikian enam syarat bagi penuntut ilmu. Oleh karena itu, menyikapi fenomena belajar Islam dari video-video di Youtube atau dari internet, yang didalamnya tidak ada feedback, tidak terjalin komunikasi, tidak ada proses belajar antara guru dan murid, dan syarat di atas tidak terpenuhi maka bisa jadi ilmu agama yang didapat kurang mendalam dan bahkan bisa tersesat. Apalagi belajar tentang Islam. Naudzubillah.

Sebaiknya bagi pembelajar atau penuntut ilmu, sumber-sumber yang terdapat di internet, baik bacaan atau video-video hanya digunakan sebagai pemantik, pembuka wawasan, berikutnya dilanjutkan dengan belajar lebih mendalam di bawah bimbingan seorang guru. Wallahu a’lam.


No comments for "Fenomena Belajar Islam dari Youtube dan 6 Syarat Menuntut Ilmu"