Maling Ghedang




Desa Kewarasan sudah tidak aman lagi. Hampir setiap hari selalu saja ada harta benda milik warga yang hilang. Satu bulan yang lalu, dua sepeda motor hilang, berikutnya ayam jago milik pak RT juga hilang, dan kejadian paling sering adalah raibnya beberapa tundun pisang yang masih berada di pohon. Ya, pisang-pisang itu hilang, ada seseorang yang lebih dulu memanen pisang-pisang itu sebelum para pemiliknya terbangun dari tidur malamnya.

Warga Desa Kewarasan dibuat heran, kenapa kok ya, ghedang yang dimaling?

Apa tidak susah menjual pisang yang belum matang? Apa tetangganya tidak curiga, kalau tiba-tiba ada pedagang buah baru?  Entahlah, mungkin juga orang itu sudah lama tidak makan buah pisang atau mungkin saja anak dan istrinya lagi nyidam, ingin makan buah pisang.

Kabar tentang maling pun luas beredar. Tersiar dari mulut ke mulut. Menjadi berita hangat di seluruh penjuru desa. Tak terkecuali Darkun, lelaki paruh baya yang sedang duduk di emperan rumah. Ia hanya tersenyum kecut mendengar kabar itu. Sesekali asap rokok menghembus dari hidungnya, membumbung menyelimuti wajahnya. Ia  tampak gelisah. Kemudian diam dan termenung. 

Darkun tidak pernah membayangkan sebelumnya, kalau ia harus memberi makan anak dan istrinya dari hasil mencuri. Lelaki berkulit gelap ini teringat nasehat seorang Kyai, bahwa makanan yang masuk dalam tubuh akan mengalir menjadi darah. Darah yang mengalir dalam tubuh itulah yang akan mempengaruhi prilaku dan sifat seseorang. Ia begitu khawatir, kalau anaknya nanti menjadi lebih berandal daripada dirinya. Ya, seperti pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Setiap hari Darkun harus menyusun rencana dan strategi untuk korban-korban berikutnya. Sebagaimana malam-malam sebelumnya, berbalut pakaian serba gelap, ia menembus malam, menyelinap di antara pohon dan rerimbunan dengan parang terselip di pinggangnya. Ia adalah maling pisang itu. Ia hanya mengambil pisang-pisang itu untuk menyambung hidup keluarganya. Hanya pisang bukan yang lainnya. Darkun hanya dapat tugas khusus. Ya, spesialis maling ghedang.

***

“Pak Kades, ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus segera bertindak”, suara Kadus Harun meninggi. “Desa kita yang pernah dapat julukan Desa Teraman, masak sekarang, jadi bulan-bulanan maling? Kadus Harun nyerocos, tanpa memberi kesempatan Pak Kades Waskito berbicara.

“Sepertinya maling ini ada di sekitar desa kita, dan mungkin juga saat ini ia sedang tertawa-tawa. Menertawakan kita, karena kita sudah dibuat bingung, resah, dan tidak tentram”. 

Kadus Harun terus berbicara sambil berdiri, kadang duduk, kadang berdiri penuh amarah.
“Lalu Pak Harun punya usul tindakan apa?”, tanya Pak Kades pelan, berwibawa.
“Ya, pokoknya kita harus aktifkan jaga malam!”
“Bukannya kita sudah menjalankan piket ronda malam”, pungkas Pak Kades

“Ya, kita giatkan lagi! yang piket ronda jangan cuma pindah tempat tidur saja, harus keliling desa!” sahut Pak Harun tidak mau kalah.

“Bila perlu, kita pasang spanduk ancaman yang besar, untuk orang-orang yang akan berbuat jahat di desa ini!”
“Seperti apa?”, tanya Pak Kades.

“Kita tulis besar-besar, MALING DI DESA INI, BERARTI MATI, kemudian kita pasang di sudut-sudut desa dan di pos-pos Kamling”

“Jangan gegabah dulu Pak Harun”, Kades Waskito mencoba menenangkan Pak Harun.
“Kalau kita pasang tulisan seperti itu, apa tidak malah menambah resah warga desa? Orang akan mengira desa kita banyak maling, dan orang-orang akan enggan berurusan dengan warga Kewarasan”.

Ruang kepala desa menjadi panas. Kipas angin di pojok ruangan tidak mampu mendinginkan kepala mereka. Pembahasan tentang maling pun tidak berujung. Kantor desa mulai sepi. Tidak ada satupun pamong desa di ruang kerjanya. Satu persatu perangkat desa itu menghilang sebelum matahari tepat di atas menara musholla balai desa.

***

“Dasar maling!, umpat Darkun.

“Heh!, yang maling siapa? Kamu atau aku? Yang makan hasil curian siapa? kamu sendiri bukan?”

“Sudahlah, Run! jangan sok suci kamu!, bentak Darkun.
“Kamu itu sama liciknya dengan pejabat yang korupsi uang negara itu!”
“Dimana liciknya?”, sahut Kadus Harun sengit.

“Caramu itu sebenarnya sudah basi. Kamu ingin terlihat hebat di mata Pak Kades, dan kamu juga ingin terlihat sebagai pahlawan yang dicintai warga. Kamu adalah bos-nya maling-maling itu. Menangkap dan mengusir maling dapat kamu lakukan kapan saja. Dengan begitu, semua warga akan simpati kepadamu. Dan kamu akan semakin mudah untuk menjadi kepala desa, menggantikan petinggi Waskito”.

“Ha, ha, ha! Kau ternyata anak buah yang cerdas, Darkun! Simpan saja ocehanmu itu! Jika kau ingin layak hidupmu!”

Kadus Harun tertawa terbahak-bahak sambil beranjak dari duduknya. Ia berdiri membelakangi Darkun yang mulai geram. Kadus Harun menatap keluar jendela. Hembusan asap rokoknya membumbung keluar jendela dan memenuhi ruang tamu.

“Kamu jangan khawatir, Darkun! Kamu tidak akan dikeroyok dan dibakar hidup-hidup oleh warga. Jauhkan pikiran horormu itu! Kamu hanya akan masuk bui beberapa hari atau beberapa bulan saja, setelah itu, dengan caraku kamu akan  keluar dari hotel prodeo yang pengap itu”.

Darkun hanya bisa diam menatap Kadus Harun penuh kebencian.

“Dan ingat! Setelah keluar dari bui, kamu jangan pernah menampakkan hidungmu di depanku atau kamu akan mati!” Kadus Harun melotot. “Cukuplah uang yang akan aku berikan nanti untuk membeli rumah dan tanah di luar desa ini. Dan ini adalah janji kita!”, ancam Kadus Harun.

Harun membalikkan punggungnya dan menatap Darkun penuh kelicikan.

Darkun tetap tidak bersuara dan tidak beranjak dari tempat duduknya. Sebentar tertunduk sambil memainkan telephon genggamnya.

      ***

Tubuh seorang laki-laki tergeletak bersimbah darah. Beberapa luka menganga di tubuhnya. Ia ditemukan warga dalam keadaan sudah tidak bernyawa di pinggir jembatan Kalimati.

Desa Kewarasan gempar. Ternyata laki-laki itu adalah Harun. Kepala Dusun Desa Kewarasan. Berita kematian Kadus Harun pun menjadi berita hangat di pagi itu.

Warga Desa Kewarasan saling berbisik dan bertanya penyebab kematian Kadus Harun. Mereka sangat menyayangkan kematiannya begitu tragis. Ada yang menduga kematian Kadus Harun ada hubungannya dengan kasus-kasus pencurian di desa itu. Ada yang mengaitkannya dengan bisnis-bisnisnya, yang konon ia memiliki bisnis haram, yang tidak semua orang mengetahuinya. Ada juga yang menduga penyebab kematiannya, ada hubunganya dengan ulahnya sendiri yang suka menggoda istri orang. Entahlah, itu semua adalah takdir. Mereka harus menerima kenyataan bahwa Kadus Harun hari itu telah meninggal dunia.

  ***

Hari masih pagi. Matahari baru saja beranjak dari peraduannya. Tepat di hari ketiga kematian Kadus Harun, seseorang tergopoh-gopoh memasuki ruangan kantor Polsek Randusari. Seorang petugas menemuinya dalam ruang tertutup dengan jendela kaca serba gelap. 

“Silahkan hukum saya, Pak! Saya sudah mengakui semua perbuatanku, dan saya hanya minta tolong, rekaman dalam telepon genggam ini diamankan. Ini adalah rekaman pembicaraan saya dan Kadus Harun”. Darkun sangat hati-hati menata kata-katanya.

“Barangkali itu dapat meringankan hidup saya. Tapi apapun yang terjadi, saya sudah siap menanggung resiko apapun. Termasuk kematian. Bagi saya kematian satu orang lebih baik daripada hidup orang tersebut membahayakan banyak orang.

Darkun tertunduk semakin dalam. Mencoba menahan butiran air yang mulai menggenang. Meski akhirnya tumpah, mengalir deras dari sudut matanya. Entah tangis penyesalan ataukah kebahagiaan.*


*Masruhin Bagus

0 Comments