Menebar Kebaikan Lewat YouTube




Salah satu situs web berbasis video adalah YouTube. Situs ini memungkinkan pengguna mengunggah, menonton, dan membagikan video. YouTube merupakan salah satu platform pilihan generasi milineal dalam menonton video. Hal itu ditunjukkan bahwa pengguna bulanan layanan milik Google ini mencapai 1,8 miliar per bulan. Tidak heran banyak orang yang kini mulai merambah ke dunia YouTube, termasuk sejumlah public figure di Indonesia. Sebab, selain menjadi media mengunggah karya, platform ini bisa menjadi sumber penghasilan bagi kreatornya.


Oleh karena itu, generasi milineal sekarang banyak yang berlomba-lomba membuat video untuk menarik penonton. Mulai dari nge-vlog biasa hingga benar-benar menyediakan konten yang menarik demi memikat jutaan Subscribers. Maka jangan heran, jika konten di YouTube isinya beraneka ragam. Mulai dari konten iseng hingga konten serius. Dari konten sampah penuh fitnah hingga ceramah penuh hikmah. Semuanya ada. Anda tinggal pilih, mau yang berisi kebaikan atau keburukan.


Berdasarkan manfaat dan tujuannya, saya mengkategorikan konten YouTube dalam tiga hal. Pertama adalah video hiburan. Contohnya video prank, video lucu, film, komedi, parodi, lawak, dan lain-lain. Pada umumnya video ini bertujuan untuk  memberikan hiburan kepada pelanggan.  Kedua, video Informasi dan ilmu pengetahuan. Contohnya video berita, video ceramah agama, video kejadian aneh dan unik, video fenomena alam, video eksperimen, dan lain-lain. Konten ini tujuannya bukan sekadar hiburan tetapi juga memberikan informasi, wawasan, dan pengetahuan. Ketiga, video tutorial. Bagi saya, jenis konten yang seperti ini juga banyak memberikan manfaat. Khususnya mereka yang ingin mempelajari tentang sesuatu hal. Kategori video how to ini contohnya adalah video memasak, aturan pakai, tutorial alat atau mesin, membuat sesuatu, dan lain-lain.


Nah, dari beberapa jenis video di atas, apa video yang paling viral dan banyak Subscribers-nya? Mari kita telusuri. 


Dari hasil penelusuran, saya temukan di liputan6.com yang release pada 04 Februari 2019. Menuliskan bahwa ada sepuluh YouTubers yang paling banyak Subscribersnya. Artinya jenis video yang diunggah oleh kreator,  memiliki pelanggan dan penonton terbanyak. 


Saya sebutkan lima saja yang teratas. Para YouTuber tersebut adalah Atta Halilintar: 9.853.872 Subscribers, Ricis Official: 9.564.322 Subscribers, Calon Sarjana: 7.460.834 Subscribers, Raditya Dika: 5.998.027 Subscribers, dan Gen Halilintar: 5.351.005 Subscribers. Dilihat dari jumlah subcribers-nya, bisa dibayangkan berapa jumlah pundi-pundi yang dikumpulkan. Konon penghasilanya YouTuber seperti mereka bisa mencapai miliaran rupiah. Tapi saya tidak akan membahas penghasilan mereka melainkan konten videonya


Jika diintip video-video mereka, video sebagian besar masuk kategori hiburan. Mengupas kehidupan artis, kehidupan seorang public figure, sosial eksperimen, dan lain-lain. Lebih banyak bersifat ‘tontonan’ daripada ‘tuntunan’. Berbeda dengan video yang berisi pesan-pesan yang bermanfaat, ketegori tutorial atau informasi/pengetahuan, Subscribers-nya masih ketinggalan jauh. Coba saja kita cek, berapa jumlah Subscribers-nya chanel video yang berisi ceramahnya Ustadz Adi Hidayat atau Ustadz Abdul Somad. Kisarannya masih sekitar satu juta-an subscribers. Inilah tantangannya.

Saya membayangkan YouTuber dengan Subscribers terbanyak itu adalah video dengan konten-konten yang menebar dan mengajak kepada kebaikan. Pesan-pesan moral terselip dalam video yang diunggah. Maka YouTube akan menjadi sarana dakwah yang efektif.


Seharusnya peluang dakwah di jalur ini ditangkap dan manfaatkan. Generasi muslim  milineal atau kita yang ‘kebagian hidup’ di zaman ini, harus bisa mewarnai. Setidaknya akan menjadi penyeimbang dan menjadi benteng dalam menghadapi gempuran video-video yang hanya berorientasi pada hiburan dan materi semata. Hanya sekadar profit oriented. Tidak memikirkan akibat dari video yang diunggah. Lebih jauh lagi, mau jadi apa bangsa ini jika setiap hari tontonan generasi muda kita adalah video kurang bermanfaat dan banyak mudharat?


Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya kalau konten-konten YouTube didominasi sesuatu yang kurang bermanfaat dan mudharat. Faktanya memang demikian. Sedangkan penikmat video YouTube tidak mengenal umur. Dari anak baru lahir hingga menjelang ajal banyak yang menonton dan diputarkan video dari YouTube. Inilah ancaman sekaligus peluang dakwah.


So, marilah kita merambah ke dunia YouTube. Jadikan video sebagai sarana dakwah. Edgar dale (1946) dalam teorinya menyebutkan bahwa apa yang bisa dilihat dan dengar(see & hear), 50% mempengaruhi seseorang untuk mengingat dan memahami dibandingkan dengan sesuatu yang hanya dibaca saja, didengar saja, atau dilihat saja. Media itu adalah video dan ladang dakwahnya adalah pelanggan YouTube.


Terakhir, jika suatu saat anda ingin mengunggah video, unggahlah video yang penuh hikmah, mengandung nasihat yang baik, dan dengan cara yang bijak dan santun. Jika dengan bahasa yang lembut itu menyejukkan mengapa harus dengan kasar dan penuh umpatan. Wallahu a’lam.



Penulis : Masruhin Bagus

0 Comments