Tiga Tips Belajar Menjadi Fotografer Profesional



Malam minggu, memang paling cocok digunakan untuk kongkow2 bersama teman-teman. Menikmati malam ditemani makanan dan minuman ringan. ‘Ngopi’ istilah sekarang (meski kadang ngajaknya ngopi, eh, minumnya the manis, he.. he…) Intinya ngobrol dan bercanda. Bahan obrolannya pun bermacam-macam. Hingga tak terasa sampai larut malam.

Nah, tadi malam (20/10) saya berkesempatan ‘cangkruk’an’ malam minggu. Tapi bukan hanya sekadar ‘cangkrukan’, tapi high quality of cangkruk’an. Bukan hanya cangkruk’an yang ngobrol ngalor ngidul gak jelas. Tapi malam ini cangkrukan bertema dan ‘berkelas’ (maksudnya di emperan kelas, he..) Temanya adalah diskusi bareng fotografer dan penulis.

Diskusi dan sharing2 bersama fotografer dan penulis ini diselenggarakan oleh FLP Tuban dan AFO Unesa Surabaya. FLP adalah komunitas kepenulisan dan AFO adalah unit kegiatan mahasiswa fotografi Unesa. Bertempat di rumah baca Basyira Desa Tunah Semanding. Diskusi berjalan aman dan terkendali. He…

Ditemani camilan khas Tunah yaitu Legen (ingat, bukan kopi), buah siwalan dan kacang bakar, sharing dan diskusi tentang fotografi  menghasilkan beberapa catatan. Tentunya catatan ini bukan satu-satunya tips fotografi, mungkin hanya secuil dari sekian banyak teori dari para ahli. Langsung saja, yang pertama, learning by doing. Bahwa untuk menghasilkan sebuah hasil fotografi yang bagus adalah dengan terus belajar dan praktik. Mulai dari praktik setting kamera hingga teknik-teknik mengambil gambar. Tentunya anda harus ada kamera dulu sebelum praktik. Kalau belum punya bisa pinjam. Lebih baik sih, beli kamera sendiri, biar nyaman memakainya.

Yang kedua, Benchmarking. Dalam dunia fotografi juga dikenal istilah benchmarking. Istilah mereka ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Sebelum hunting foto, bagi pemula disarankan untuk menerapkan ini, yaitu dengan mengamati hasil2 foto dari obyek yang akan difoto, selanjutnya meniru cara mengambil gambarnya, termasuk angel-angel-nya, kemudian modifikasi sesuai selera kita. Selain itu untuk mencari angel yg bagus, bisa dengan terus berkeliling dan mengulang-ulang jepretannya. Hal ini juga tergantung tujuan dari memfoto itu sendiri. Jika sudah terpenuhi tujuannya, terakhir memilih hasil foto terbaiknya.

Ketiga, terus belajar. Untuk mencapai tingkatan professional, harus terus belajar. Belajar kepada para ahli/professional  dibidangnya. Sarana belajar bisa dengan belajar langsung secara offline atau melalui media online. Sehingga diharapkan bagi para penulis, foto yang disertakan dalam tulisan bukan sekedar untuk melengkapi tulisan, tetapi juga memiliki nilai estetika. Dengan foto yang dapat ‘berbicara’, penulis kadang tidak perlu banyak bercerita. 

Sebenarnya masih banyak catatannya, tapi saya ringkaskan dan sampaikan tiga saja. Oke, selamat belajar fotografi.

0 Comments